Tindak Aparat Pemerkosa Tahanan di Mapolres Poso

Muhammad Saifullah , Okezone · Minggu 31 Maret 2013 11:42 WIB
https: img.okezone.com content 2013 03 31 340 783916 jN7nOugzGU.jpg Ilustrasi (Dok Okezone)

JAKARTA - Komnas HAM mendesak Kapolres Poso segera menindak tegas aparat yang diduga melakukan pemerkosaan terhadap tahanan perempuan di Mapolres Poso. Desakan ini dilontarkan, karena hingga kini para pelaku diduga masih bebas berkeliaran bahkan sempat bertugas beberapa hari ini.

 

“Komnas HAM menyesalkan Kapolres yang masih saja belum menindak oknum aparat A yang diduga melakukan tindak pemerkosaan dengan menodongkan pistol di kepala korban,” ujar anggota Komnas HAM Siane Indriani kepada Okezone di Jakarta, Minggu (31/3/2013).

 

Siane menegaskan bahwa kasus ini merupakan sebuah ironi, lantaran pelaku pemerkosaan merupakan aparat yang seharusnya memberikan perlindungan kepada rakyat. Terlebih lagi, lokasi pemerkosaan berada di tahanan Mapolres Poso.

 

“Ini merupakan tragedi, bagaimana seorang wanita tahanan di Polres justru mengalami pemerkosaan oleh aparat yang seharusnya memberikan perlindungan padanya. Ini tentunya tidak bisa ditolerir dan Kapolres harus segera menindaknya serta publik harus ikut mengawasinya,” tegasnya.

 

Sejak awal, kata Siane, Komnas HAM sudah memantau kasus ini, bahkan dia sudah bertemu langsung dengan korban MF (24) dan rekannya, YT. Keduanya merupakan tahanan kasus narkoba, saat ditahan di sel Mapolres Poso.

 

Baik MF maupun YT menceritakan secara detail kronologisnya, walau dengan perasaan takut. Korban, MF, mengaku dua kali diperkosa di bawah todongan pistol di kepala. Selain itu dua oknum aparat lainnya juga berupaya memperkosa dirinya. Baik MF dan YT sebenarnya  merasa takut dengan ancaman  hukuman mereka diperberat jika menyampaikan hal ini kepada Komnas HAM.

 

Selain itu, ayah korban juga ingin agar masalah yang mencemarkan harga diri anaknya ini tidak dibesar-besarkan karena akan menanggung rasa malu. Atas dasar itulah Komnas HAM lalu menyampaikan ke pihak kepolisian agar segera ditindak pelakunya. Ini juga dilakukan agar tidak sampai menimbulkan gejolak kemarahan masyarakat, karena kondisi Poso yang masih sangat sensitif saat ini.  

 

“Beberapa waktu lalu ayah korban menginformasikan bahwa Kapolres telah menangkap pelakunya dan akan menghukum berat bahkan segera memecatnya. Tetapi ternyata hingga kini, janji itu tidak juga ditepati, karena Kapolres membiarkan pelakunya bebas. Apalagi saat ini Fat dan Yat kembali ditahan di Polres Poso, saya mengkhawatirkan keselamatan korban, karena keduanya mengalami ancaman sebagaimana disampaikan beberapa waktu lalu kepada Komnas HAM,” urainya.  

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dugaan pemerkosaan yang dilakukan Bripka AH terhadap tahanan perempuan berinisial MF (24) di dalam sel tahanan Polres Poso ternyata bukan hanya sekali, namun dua kali di hari berdekatan.

 

Informasi yang dihimpun, saat peristiwa itu terjadi tahanan lainnya, berisinial YT yang tak lain rekan tersangka FM, disuruh menunggu di luar sel. Saat itulah, oknum polisi melakukan perbuatan bejatnya.

 

Korban ditodong pistol oleh oknum polisi berinisial AH lalu dipaksa berhubungan badan layaknya suami istri. Bukan hanya sekali, oknum polisi berinisial Bripka AH diduga melakukan perbuatan bejat itu sebanyak dua kali pada 23 dan 24 Maret lalu. Selain Bripka AH, diduga ada dua oknum anggota polisi lainnya juga diduga ikut serta melakukan pemerkosaan yakni Bripka DD dan Bripka CD.

 

“Jika benar pelaku masih bebas, ini berarti Kapolres Poso melakukan kebohongan publik dan melecehkan hukum, karena membiarkan anak buahnya melakukan perbuatan yang bisa mencemarkan nama baik kepolisian dan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat,” tegas Siane.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini