Share

ITB dan Label Kampus Mahal

Iman Herdiana, Okezone · Senin 01 April 2013 11:10 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 01 373 784231 KTUXsWocyf.jpg Rektor ITB Akhmaloka. (Foto: Iman Herdiana/Okezone)

BANDUNG - Hingga saat ini, Indonesia baru memiliki dua institut teknik negeri. Sebagai pionir, masyarakat pun menggantungkan banyak harapan kepada Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pengembangan sains dan teknologi di Indonesia.

Beban berat itu kini menjadi tanggung jawab Akhmaloka. Rektor ITB hingga 2014 mendatang tersebut mengakui, harapan masyarakat terlalu besar. ITB, kata Akhmaloka, diharapkan bisa menjawab semua persoalan sains dan teknologi, sambil mencetak lulusan unggul berkualitas. Di sisi lain, masyarakat juga menginginkan ITB menerima lebih banyak mahasiswa lagi, tentunya dengan biaya terjangkau.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Padahal, pria asli Cirebon itu mengimbuh, peningkatan kualitas ITB memerlukan biaya yang tinggi. Sebab kualitas berbanding lurus dengan ongkos yang harus dikeluarkan. Sementara subsidi dari pemerintah yang terbatas tidak cukup untuk mendongkrak mutu pendidikan ITB sekaligus menekan ongkos kuliah agar lebih murah.

"Terbatasnya subsidi pemerintah membuat biaya peningkatan kualitas itu harus dibebankan kepada masyarakat atau orangtua murid," kata Akhmaloka, ketika berbincang dengan Okezone di ruang kerjanya, kampus ITB, baru-baru ini.

Mantan dekan FMIPA ITB menilai, dinamika utama dalam memimpin ITB adalah uang, seperti dalam urusan peningkatan kualitas pendidikan tadi. Hal kedua adalah sering berubahnya kebijakan pemerintah. Sementara itu, kampus juga harus tetap memperbanyak dan menguatkan dosen. Sebuah hal, yang kata Akhmaloka, bukanlah sesuatu yang mudah, namun tetap masih bisa dijalani.

Dengan kondisi demikian, peneliti bidang biomolekular ini tidak setuju jika ITB dituding sebagai kampus mahal. Menurutnya, mengembangkan pendidikan yang lebih baik tentu memerlukan biaya yang tinggi. Sementara sumber daya dosen ITB tidak sama bertambahnya dengan mahasiswa. Mahasiswa bisa bertambah sangat cepat tapi jumlah dosen dibatasi. Ini karena pemerintah membatasi sistem pegawai negeri.

"Jadi bukan mahal, tapi proses kualitas tinggi itu juga memerlukan cost yang lebih tinggi," terangnya.

Akhmaloka pun berharap, pemerintah bisa memberikan subsidi lebih baik lagi kepada kampus-kampus di Indonesia, khususnya ITB.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini