nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sarjana Sains Jadi Apa Sih?

Margaret Puspitarini, Jurnalis · Senin 01 April 2013 13:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2013 04 01 373 784345 r71P8Rsltw.jpg Foto : ITS

JAKARTA - Apa sih alasan kita memilih jurusan saat kuliah? Prospek kerja ke depan dari jurusan tersebut tentu menjadi faktor utama yang kita pertimbangkan sebelum akhirnya menekuni sebuah bidang studi tertentu.  

Mendengar kata Sarjana Sains (S.Si.), bidang pekerjaan apa yang terlintas di benak Anda? Jika Anda hanya memikirkan dosen dan laboran, maka pemikiran Anda masih sempit. Pasalnya, lulusan dengan gelar S.Si. memiliki prospek kerja yang lebih luas.

 

Tidak percaya? Sejumlah lulusan S.Si. yang telah sukses bekerja di luar pekerjaan sebagai dosen dan laboran berbagi cerita di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Pada kegiatan bertajuk "Ambassador of Science 2013" itu, pembuat film dokumenter Andi Arfan Sabran, karyawan di perusahaan yang bergerak pada bidang ilmu dasar Kimia Sari Pamor Sundari, dan Presiden Bandung de Institute Hokky Situngkir didapuk menjadi pembicara.

 

Sesuai dengan tema yang diusung, yakni "Science for Indonesia from Young Generations for Nation", ketiga pembicara mengungkapkan pengalaman dalam mengaplikasikan sains secara tidak biasa. Andi misalnya. Menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar di bidang sains, Andi justru menjadi pembuat film.

 

Bahkan, film dokumenter karya Andi berjudul "Suster Apung" berhasil meraih penghargaan tingkat internasional. Tidak hanya itu, hasil kreasinya pun mampu menggondol Eagle Award 2006.

 

Beralih ke sesi dua, Sari mengungkapkan peluang kerja lulusan S.Si. di dunia industri. "Saat ini, banyak perusahaan yang membutuhkan sarjana sains. Walaupun hanya lulusan sains, peluang untuk bekerja di dunia industri tetap ada," kata Sari, seperti dikutip dari ITS Online, Senin (1/4/2013).

 

Sementara itu, Presiden Bandung de Institute Hokky Situngkir yang didapuk sebagai pemateri puncak mencoba berbagi cerita untuk menginspirasi para kawula muda. Menurut Penemu Batik Fisika itu, seorang sarjana sains pun dapat berlaku kreatif.

 

Peraih Achmad Backrie Award 2011 itu menyebut, setiap batik memiliki cerita sendiri. "Seperti saat menemukan Batik Fisika. Lagipula, beda batik, beda identitasnya," tutur Hokky.

 

Kegiatan perdana besutan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) itu mendapat sambutan yang luar biasa baik dari segenap civitas academica ITS maupun mahasiswa luar. Sebut saja peserta dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang menyempatkan diri untuk hadir. "Bahkan, ada juga peserta dari SMA,'' ujar Ketua Pelaksana, Frida Ayundawati.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini