Share

Dahulukan Akreditasi, Baru Peringkat Dunia

Iman Herdiana, Okezone · Senin 01 April 2013 20:05 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 01 417 784399 a2XWrCUpOO.jpg Rektor ITB Akhmaloka. (Foto: Iman Herdiana/Okezone)

BANDUNG - Kalah saing dalam pemeringkatan perguruan tinggi dunia tidak membuat Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmaloka, gusar. Menurutnya, perangkingan bukanlah tujuan utama ITB, dan ada hal yang lebih penting ketimbang memikirkan pemeringkatan. Hal itu adalah akreditasi.

Ketika berbincang dengan Okezone di ruang kerjanya, kampus ITB, Bandung, baru-baru ini, Akhmaloka memaparkan, ITB lebih mengejar evaluasi kampus yang terinci dan spesifik seperti akreditasi internasional. Baginya, akreditasi merupakan sistem assesment (penilaian) yang mendalam.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Mengutamakan akreditasi, imbuhnya, bertujuan agar alumni ITB lebih diakui dan mudah kerja di luar negeri. Pasalnya, meski tersohor sebagai kampus teknik elite di Tanah Air, tidak jarang lulusan ITB yang bekerja di luar negeri ditanya apakah prodinya terakreditasi secara internasional atau tidak. Jika belum terakreditasi, maka belum tentu sistem kerja di luar negeri akan menerima lulusan ITB.

"Nah, fokus kami lebih ke peningkatan kualitas lewat akreditasi itu. Kami mengarahnya ke sana," ujar Akhmaloka.

Akreditasi internasional akan menilai sistem akademik atau proses belajar mengajar di ITB. Jika standar akademiknya sesuai dengan standar internasional, maka badan akreditasi luar negeri ini akan melakukan assesment. Kemudian, jika melalui assesment tersebut ITB terbukti memenuhi standar, maka ITB akan menerima sertifikat akreditasi dari badan akreditasi tersebut. Dengan kata lain, sertifikat akreditasi menunjukkan bahwa lulusan ITB memiliki standar yang sama dengan lulusan kampus luar negeri.

Mantan dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB itu memaparkan, beberapa prodi ITB yang sudah mendapat akreditasi internasional adalah Teknik Kelautan, Teknik Elektro, Teknik Kimia, dan Teknik Fisika.  Keempatnya diakreditasi Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) yang berpusat di Amerika Serikat (AS).  Lalu tahun ini juga ada beberapa prodi lagi di ITB yang akan didaftarkan ke ABET yakni Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, Teknik Industri, dan Teknik Informatika.

Selain itu, Sekolah Manajemen ITB diakreditasi oleh badan akreditasi yang berpusat di Jepang. Sedangkan Teknik Arsitektur sudah terakreditasi oleh badan akreditasi Korea Selatan, Teknik Kimia mendapat akreditasi dari Royal Society of Chemistry di Inggris, dan Teknik Geodesi ITB akan mendapat akreditasi dari Asean University Network.

"Kami menargetkan minimal ada satu prodi di tiap fakultas atau sekolah yang ada di ITB (mendapat akreditasi internasional)," sebut pria penggemar novel sejarah itu.

Akhmaloka mengakui, proses akreditasi tersebut menuntut ITB untuk menjaga proses belajar mengajar yang sudah berstandar internasional. Jika menurun dari standar, maka akreditasi akan dicabut. 

Dia menilai, akreditasilah yang menjadi jaminan mutu ITB, bukan keterkenalan dalam pemeringkatan.  Peringkat, kata Akhmaloka, merujuk pada keterkenalan. Dengan kata lain, semakin banyak orang yang kenal ITB, maka peringkatnya semakin bagus.

Menurut pria asli Cirebon tersebut, seandainya proses pemeringkatan yang dilakukan 4ICU sama dengan yang dilakukan badan akreditasi internasional, tentu hasilnya akan menjadi kebanggaan ITB.

"Kalau evaluasinya mendalam tentu kami senang juga kalau bisa dikenal. Tapi kan yang lebih penting adalah mutu kami sendiri. Jadi target kami adalah meningkatkan mutu," tegasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini