Share

Alasan ITB Gencarkan Internasionalisasi

Iman Herdiana, Okezone · Selasa 02 April 2013 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 02 417 785078 I7TSZHO0rO.jpg Rektor ITB Akhmaloka. (Foto: Iman Herdiana/Okezone)

BANDUNG - Sejak dua tahun lalu, kampus teknik tertua di Tanah Air ini gencar menerapkan program internasionalisasi dalam berbagai sendi kehidupan akademik mereka. Di samping giat meraih akreditasi internasional pada semua program studi (prodi), Institut Teknologi Bandung (ITB) juga tekun menggalakkan berbagai program internasionalisasi lainnya.

Sebut saja program "double degree" dan "joint degree" yang dimiliki hampir semua fakultas dan sekolah di ITB. Kerjasama dengan kampus-kampus luar negeri ini melibatkan institusi pendidikan di Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan kampus negara ASEAN.  Selanjutnya, program "student mobility" dan "staff mobility".

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Program student mobility merupakan pertukaran mahasiswa ITB dengan kampus luar negeri dalam jangka waktu tertentu, dan sebaliknya. Sedangkan staff mobility adalah pertukaran tenaga pengajar ITB untuk mengajar di kampus luar negeri, dan tenaga pengajar asing diundang ke ITB.

Selain itu, ITB juga tetap menerima mahasiswa asing, meski jumlahnya tidak signifikan. Saat ini ada 300-400 mahasiswa asing yang kuliah di ITB. Mereka berasal dari 30 negara, paling banyak dari negara-negara ASEAN, Korea Selatan, Jepang, Eropa Timur, USA, Jeman, Timur Tengah, dan negara dari Sub Sahara yakni Afrika Utara seperti Sudan, Libya, dan lain-lain.

Mengapa ITB giat menempuh berbagai langkah internasionalisasi ini? Ketika berbincang dengan Okezone di gedung Rektorat ITB belum lama ini, Rektor ITB Akhmaloka membuka alasannya. Menurut nakhoda ITB hingga 2014 mendatang ini, program-program internasionalisasi tersebut merupakan upaya institusinya memagari anak muda Indonesia yang menimba di ITB dengan ilmu dan keahlian.

"Internasionalisasi ITB bukan maksud terima mahasiswa asing lalu bayar pakai dollar. Internasionalisasi dibuat supaya mahasiswa ITB terpapar dengan teman-teman dari luar negeri. Artinya ada cross culture interaction supaya kemudian kita juga siap," terang Akhmaloka.

Internasionalisasi juga menjadi salah satu persiapan ITB menghadapi ASEAN Community pada 2015 mendatang. Jika ASEAN Community diterapkan, maka tidak akan ada lagi batasan antarnegara ASEAN, termasuk dalam pasar tenaga kerja. Dengan kata lain, tenaga kerja dari negara-negara ASEAN bisa masuk ke Indonesia, dan sebaliknya, tenaga kerja Indonesia bisa masuk ke negara-negara ASEAN.

Dunia tanpa batas ini, kata Akhmaloka, menuntut sumber daya manusia (SDM) Indonesia berkualitas tinggi dan kompetitif. Jika tidak, maka lowongan kerja di bidang keahlian akan diserbu tenaga ahli luar negeri, seperti dari Malaysia, Filipina, Thailand, dan Singapura. Mantan Dekan FMIPA ITB itu tidak setuju jika tenaga kerja dalam negeri hanya menjadi penonton dan malah mengisi lapangan kerja bukan keahlian.

Menurut Akhmaloka, program internasionalisasi akan membuka interaksi antara mahasiswa ITB dan mahasiswa asing sehingga terjadi interaksi budaya, pemahaman terhadap kultur asing plus peningkatan kualitas kemampuan. Pendekatan kebudayaan seperti itu dibutuhkan untuk memahami kultur orang lain, termasuk cara pikir dan cara kerja orang dari negara lain. Dengan demikian, mahasiswa ITB pun akan siap menghadapi ASEAN Community dan tahu apa yang harus mereka lakukan ketika bekerja di luar negeri.

"ASEAN Community itu sebetulnya lapangan kerja di Indonesia diserbu orang asing. Makanya kita perlu membangun anak muda handal. Generasi muda ini harus menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, syukur-syukur kalau bisa ekspansi ke negara lain," ungkapnya.

Akhmaloka percaya, pada 2015 nanti persilangan budaya akan menjadi tren dunia. Maka persilangan budaya harus berjalan dengan baik karena hal ini sering menjadi pemicu kesalahpahaman yang bisa berdampak pada ketegangan antarbudaya. "Dengan pendekatan budaya, diharapkan SDM kita bisa makin berkualitas," tutur penyuka novel sejarah itu.

Tentu saja, pria asli Cirebon itu mengimbuh, ITB tetap meningkatkan kemampuan kompetitif sarjana atau angkatan kerja yang mereka hasilkan. Pasalnya, saat ini mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik yang bagus. Mahasiswa juga harus punya karakter dan sikap yang baik, termasuk dalam memahami kultur asing. Hal utama lainnya adalah kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, terutama Inggris.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini