Share

"Ilmuwan Indonesia di Luar Negeri Bakal Pulang Kampung"

Iman Herdiana, Okezone · Rabu 03 April 2013 13:34 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 03 417 785617 gzFeF4VlxI.jpg Rektor ITB Akhmaloka. (Foto: Iman Herdiana/Okezone)

BANDUNG - Fenomena ilmuwan Indonesia yang kerja di luar negeri tidak lepas dari kurangnya dukungan sistem pengembangan sains dan teknologi di Tanah Air. Seandainya sistem tersebut terbangun, tentu para ilmuwan Indonesia akan nyaman bekerja dan melakukan penelitian di negeri sendiri.

Namun Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmaloka mengaku tidak khawatir dengan fenomena itu. Justru keberadaan ilmuwan Indonesia di luar negeri akan berdampak positif. Selain itu, mereka juga tidak bisa dicegah atau dilarang bekerja di negara asing.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Akhmaloka menuturkan pengalamannya ketika baru lulus kuliah di Inggris pada 1990-an. Saat itu, dia mengambil jurusan genetic engineering, bidang studi yang masih sangat asing di Indonesia. Akhmaloka pun langsung ditawari kerja selama tiga tahun di Inggris. Tetapi setelah meminta pendapat kepada profesornya di ITB, Akhmaloka akhirnya menolak tawaran itu. Meskipun di Tanah Air Akhmaloka belum tentu bisa mempraktikkan ilmunya, mengingat masih langkanya genetic engineering.

Pria asli Cirebon ini bisa memahami alasan ilmuwan yang memilih melakukan penelitian untuk negara lain. Ada perasaan tak berguna yang dialami ilmuwan muda yang baru lulus kuliah di luar negeri ketika tiba di Tanah Air. Padahal mereka masih muda, namun mungkin sudah menyandang gelar doktor atau profesor. Sayangnya, hasil pendidikan mereka selama ini tidak mendapat tempat di tanah kelahiran sendiri, bahkan tidak dihargai.

"Doktor muda kan semangatnya tinggi, ada perasaan ilmunya tak berguna. Inilah yang kadang-kadang menyebabkan teman-teman kita itu ke luar negeri. Jadi saya tidak ingin mencegah mereka, tetapi tentu kita harus membangun sistem kita di dalam negeri sebaik mungkin,” katanya.

Selain itu, penghargaan terhadap saintis di dalam negeri juga jauh lebih kecil ketimbang di luar negeri. Di dalam negeri, pernah muncul keprihatinan tentang nasib peneliti lembaga pengetahuan negeri tetapi tunjangan atau gajinya sangat kecil meskipun bergelar profesor.

Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan prasarana penelitian, seperti minimnya laboratorium-laboratorium untuk berbagai jurusan teknik. Seorang peneliti nanoteknologi tentu akan mati langkah ketika tidak ada laboratorium nanoteknologi. Maka dengan kondisi itu, para peneliti berpaling ke luar negeri. Di sana mereka bisa menyalurkan ilmunya, menemukan laboratorium, termasuk kesejahteraan.

Nakhoda ITB hingga 2014 ini mengaku, tidak khawatir dengan fenomena itu. Justru yang harus menjadi fokus di dalam negeri saat ini adalah bagaimana membangun sistem yang bisa mengakomodasi kemampuan riset mereka.

"Jangan terlalu cemas. Sistemnya harus kita bangun, suatu hari mereka akan kembali," katanya.

Akhmaloka berujar, salah satu negara yang menjadi tujuan ilmuwan Indonesia adalah Hamburg, Jerman. Ada 100-an ilmuwan Indonesia yang bekerja di sebuah pabrik pesawat, mereka di antaranya lulusan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB. Suatu hari, Akhmaloka sempat bertemu dengan temannya yang ada di Hamburg itu. Temannya itu bercerita sangat merindukan Indonesia, kampung halamannya.

"Teman saya mau kembali karena ingin dengar adzan Subuh. Di Hamburg kan enggak ada adzan," tuturnya.

Pria ramah ini yakin, jika sistem pengembangaan sains dan teknologi, misalnya industri pesawat terbang di Indonesia membaik, maka para ilmuwan yang kerja di luar negeri itu akan kembali. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terjadi transfer ilmu yang selama ini didapat dan dipraktikkan di luar negeri untuk industri di dalam negeri.

Contohnya, pada era 90-an orang-orang India dan China termasuk para ilmuwannya ramai-ramai merantau ke berbagai negara di dunia, terutama Eropa dan Amerika Serikat. Di negara maju tersebut mereka sukses. Bahkan para penelitinya menjadi guru besar universitas bergengsi. Lalu pada era 2000-an, justru mereka berbondong-bondong kembali ke negaranya untuk membangun negeri tercinta.

"Jadi enggak usah cemas ada peneliti Indonesia yang kerja di luar negeri, suatu hari kalau kita bisa membangun riset environment mereka akan kembali," ujarnya.

Akhmaloka justru melihat fenomena ini dari sisi positif. Konon Indonesia termasuk negara yang warga negaranya sedikit berada di luar negeri, termasuk ilmuwannya. Alasannya, para saintis lokal justru diperlukan keberadaannya di luar negeri.

Nah, keberadaan para ilmuwan Indonesia di luar negeri ini akan menjadi aset berharga dalam jaringan saintifik dan perdagangan. Contohnya, Akhmaloka mengilustrasikan, jika ada ilmuwan yang mengajar atau meneliti di kampus Jepang, dia dapat membuka jaringan supaya anak-anak atau mahasiswa Indonesia bisa diterima di Jepang.

Dengan begitu, justru ada kolaborasi positif antara perguruan tinggi di dalam negeri dengan perguruan tinggi di luar negeri. Di sisi lain, kata Akhmaloka, banyaknya warga negara Indonesia yang ada di luar negeri bisa turut memperlancar ekspor produk-produk Indonesia. Saat ini, ekspor makanan jadi terbesar adalah mi instan yang justru banyak dibeli oleh warga Indonesia yang ada di luar negeri.

"Nah, orang Indonesia enggak cukup banyak yang ada di luar negeri. Kalau banyak, bukan hanya mi instran yang kita ekspor, tetapi jangan-jangan mobil Indonesia ada yang bisa diekspor nantinya seperti motor China yang menyerbu ke mana-mana," ungkapnya. (rfa)

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini