nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

"Zouteland" Ancol

Dede Suryana, Jurnalis · Jum'at 05 April 2013 15:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2013 04 05 504 786939 XnCyzILavU.jpg Ancol zaman dulu (Foto: Istimewa)

ZOUTELANDE alias tanah asin. Demikian orang-orang Belanda menyebut Ancol. Kini meliputi sebelah timur kawasan Kota Tua, Jakarta Utara hingga Pelabuhan Tanjungpriok. Disebut tanah asin karena bila laut di utara Batavia sedang pasang, air payau kali Ancol akan berbalik ke darat menggenangi tanah warga, sehingga terasa asin.

Sebagaimana namanya Ancol bermakna tanah rendah berpaya-paya atau payau. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Ancol diartikan tanjung alias tanah yang menjorok ke laut.

Ancol sudah ada sejak abad ke-17, tepatnya tahun 1656 (De Haan 1935:103 – 104). Kala itu Terusan Ancol dibangun untuk menghubungkan Batavia dengan kubu pertahanan. Hingga kini terusan Ancol masih dapat disinggahi kapal kecil.

Tidak hanya itu, Belanda juga membangun jalan yang sejajar dengan terusan itu. Belanda menyadari bahwa kawasan Ancol sangat strategis dalam rangka pertahanan kota Batavia.

Sifat strategis Ancol juga dirasakan pada saat penyebaran agama Islam mulai berkembang di Kerajaan Sunda. Sejarah mencatat, Ancol menjadi salah satu medan pertempuran di samping Kalapa Tanjung Wahanten (Banten) dan tempat-tempat lainnya pada masa pemerintahan Surawisessa (1521 – 1535).

Karena letaknya yang dekat dengan benteng atau kastil Belanda di Sunda Kelapa, maka kawasan ini turut mengalami perjalanan sejarah kota Batavia atau Jakarta. Pada masa itu, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier 1737-1741 , memiliki rumah peristirahatan sangat indah di tepi pantai Ancol.

Si Manis Jembatan Ancol

Ancol juga tidak lepas dengan cerita Mariam ‘Si Manis Jembatan Ancol’. Hikayat sosok hantu cantik yang kabarnya sering menampakkan diri di sekitar kawasan Ancol. Meskipun keberadaan jembatan Ancol sendiri hingga kini masih diperdebatkan.

Menurut cerita, Mariam atau Siti Ariah adalah sosok perempuan Betawi yang hidup pada awal abad ke-19 di kampung Ancol. Suatu hari dia dilamar seorang cukong kaya raya yang suka perempuan muda. Namun dia menolak lamaran itu karena sudah memiliki kekasih.

Dia juga tak sudi hanya dijadikan gundik. Karena ditolak, sang cukong kaya itu marah bukan kepalang karena merasa dihina. Sementara Ariah, memberontak dan memilih melarikan diri.

Seorang centeng si cukong memburu Ariah dan berhasil menangkapnya. Terjadilah pergulatan yang sengit sebelum akhirnya Ariah dilumpuhkan. Perempuan malang itu tercebur—dalam cerita lain disebutkan menceburkan diri untuk mempertahankan kehormatan—ke kubangan lumpur yang coklat hingga meregang nyawa di sana.

Syadan, jenazah Ariah dibuang dan ditemukan di area persawahan di daerah Sunter, tak jauh dari Ancol, Jakarta.

 

Kini, Ancol telah menjelma menjadi daerah wisata dan komplek pemukiman mewah. Melalui Keputusan Presiden pada akhir Desember 1965, Bung Karno memerintahkan kepada Gubernur DKI Jaya waktu itu, dr. Soemarno, sebagai pelaksana pembangunan proyek Taman Impian Jaya Ancol.

 

Proyek pembangunan ini baru terlaksana di bawah pimpinan Ali Sadikin yang ketika itu menjadi Gubernur Jakarta.

 

*Diolah dari berbagai sumber

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini