Share

Mahasiswa ITS Bantu Korban "Si Lumpur Panas"

Margaret Puspitarini, Okezone · Senin 08 April 2013 14:52 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 08 373 788063 mIfqMbe1XO.jpg Ilustrasi : ist.

JAKARTA - Enam tahun sudah lumpur panas melanda kawasan Sidoarjo, Jawa Timur. Asap yang masih mengudara rendah menjadi tanda luapan lumpur panas belum kunjung reda. Namun, beberapa kilometer dari tanggul-tanggul tinggi itu, semangat dari sejumlah warga korban untuk memperbaiki trauma itu masih tampak membara.

Tidak tinggal diam, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghabiskan akhir pekan mereka dengan menjadi sukarelawan di wilayah tersebut. Salah satunya memberikan pelatihan membuat sabun kepada kaum ibu.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Ketua Pelaksana kegiatan Eko Mamo Prapitag mengungkapkan, kegiatan bernama Lapindo We Care itu merupakan bentuk kepedulian mahasiswa ITS terhadap korban lumpur Sidoarjo. Apalagi, kegiatan itu sudah menjadi amanat yang dilimpahkan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia kepada mahasiswa ITS.

''Kami menjalankan mandat dari BEM seluruh Indonesia untuk menjadi pionir dalam bersimpati kepada korban lumpur. Baik secara psikologis, ekonomi, maupun pendidikan,'' kata Eko, seperti dikutip dari ITS Online, Senin (8/4/2013).

Kaum ibu setempat tampak antusias mengikuti pelatihan itu. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang mengaku akan melanjutkan kegiatan pembuatan sabun selepas pelatihan. Seperti yang dirasakan salah seorang warga, Nur Khasanah.

''Kami bisa belajar banyak dari mahasiswa. Setidaknya kami dapat membuat dulu untuk dipakai sendiri, nanti kalau bisa juga dibuat bisnis,'' ujar Nur.

Aksi nyata para mahasiswa ITS itu dapat terealisasi berkat andil besar seorang Muhammad Irsyad. Cak Irsyad -begitu dia biasa disapa- memberikan kesempatan bagi mahasiswa ITS dapat berbagi ilmu dengan masyarakat di tempat itu.

''Kami selalu menyediakan waktu untuk mahasiswa dan para sukarelawan berbagi kepada kami karena kami memang membutuhkannya,'' terang Irsyad.

Irysad menyebut, telah mendirikan sanggar untuk memfasilitasi anak-anak di desa itu dalam bermain dan belajar. Namun, belum pulih benar, para pengungsi akan direlokasi ke daerah Panggreh, Kecamatan Jobon, Sidorajo.

"Saya khawatir relokasi itu akan menimbulkan banyak masalah. Masalah yang mungkin terjadi yaitu pekerjaan, sekolah anak, hingga pergaulan dengan tetangga baru, oleh karena itu pelatihan ini akan menjadi bekal bagi warga,'' tambahnya.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini