Share

Dua Minggu, Tiga Sekawan Ini Sabet 2 Juara

Margaret Puspitarini, Okezone · Senin 08 April 2013 16:12 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 08 373 788129 dWoMvLIWr3.jpg Foto : ITS

JAKARTA - Siapa yang tidak bangga jika mampu menorehkan prestasi di tingkat nasional? Apalagi ketika dua prestasi berhasil diboyong sekaligus dalam kurun waktu dua minggu. Rasa bangga itu yang kini menyelimuti tiga pemuda asal Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Mereka adalah M Samsul Anam, Wawan Trianto, dan Danang Prayoga. Ketiga mahasiswa Jurusan Teknik Sipil ITS 2011 itu sukses meraih jawara dalam lomba beton warna Intergrally Coloured Concrete di Universitas Kristen Petra, serta lomba beton Geopolimer di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Kedua lomba tersebut merupakan kompetisi beton tingkat nasional yang diselenggarakan sebagai kegiatan tahunan masing-masing perguruan tinggi.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Samsul menjelaskan, meskipun sama-sama berlabel kompetisi beton, secara konsep keduanya jauh berbeda. Lomba beton warna merupakan kompetisi beton pertama di Indonesia yang memanfaatkan semen putih sebagai bahan dasar.

"Sedangkan kompetisi beton geopolimer adalah lomba beton yang melarang penggunaan material semen sebagai bahan baku penyusun beton," kata Samsul, seperti dikutip dari ITS Online, Senin (8/4/2013).

Tidak hanya itu, secara teknis pelaksanaan, kedua lomba tersebut juga berbeda. Untuk lomba beton warna, proses pembuatan beton harus dilakukan di lokasi perlombaan.

"Sedangkan lomba beton geopolimer mengharuskan peserta mengirim beton yang sudah jadi untuk dilakukan proses penilaian. Untuk yang beton geopolimer kami membuatnya di Laboratorium Jurusan Teknik Sipil,'' jelasnya.

Wawan menambahkan, dalam lomba beton warna sistem penilaian melihat ukuran kekuatan beton, segi estetika, dan efisiensi harga. Sehingga, ketiganya mencoba meramu takaran komposisi baru untuk menghasilkan beton yang kuat dengan harga ekonomis.

"Kami menghitung setiap komposisi material untuk mengurangi material yang relatif mahal. Selain itu kami juga berusaha memanfaatkan material dengan seefektif mungkin supaya tidak tersisa terlalu banyak,'' ujar Wawan.

Sementara itu, sang dosen pembimbing Tavio mengungkapkan, rasa percaya diri dan keaktifan dari ketiga anak didiknya patut diapresiasi. Pasalnya, mereka tidak sungkan untuk menuntut hak mereka jika merasa dirugikan.

Dosen Jurusan Teknik Sipil itu mencontohkan kejadian saat presentasi lomba beton warna. Poster ketiga mahasiswa tersebut tidak dinilai sama sekali tanpa alasan yang jelas. Padahal poster tersebut sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari agar hasilnya maksimal.

"Mereka protes terhadap panitia untuk meminta keadilan. Hasilnya, poster adik-adik ini mendapat nilai 81. Itu hasil yang cukup melegakan,'' ujar Tavio.

Meski merasa bangga, Tavio berpesan agar ketiga anak bimbingannya tidak puas diri dengan capaian tersebut dan terus meningkatkan kemampuan mereka. Sebab tantangan ke depan akan semakin berat dan membutuhkan inovasi-inovasi aplikatif dari generasi muda seperti mereka.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini