Share

Insinyur di Indonesia Susah Cari "Kolam"

Nurul Arifin, Okezone · Jum'at 19 April 2013 15:41 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 19 417 794365 TlAkD8V3nv.jpg Rektor ITS Tri Yogi Yuwono. (Foto: Nurul Arifin/Okezone)

SURABAYA - Dari tahun ke tahun, kian banyak tenaga ahli di Indonesia memilih bekerja di luar negeri. Posisi para tenaga ahli  tersebut pun diisi oleh para pekerja asing sehingga membuat putra bangsa terasing di rumah sendiri.

Menurut Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Prof Dr Ir Triyogi Yuwono, DEA, fenomena brain drain ini salah satunya dilatarbelakangi susahnya mencari pekerjaan yang cocok dengan disiplin ilmu di Indonesia.

Ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu, nakhoda ITS hingga 2015 itu mengungkap, pemerintah Indonesia masih belum bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi para lulusan universitas. Tidak heran, banyak anak bangsa yang berotak "encer" ini lebih dihargai di negeri orang.

"Memang ada pepatah, berilah kail agar bisa mendapatkan ikan. Kailnya sudah ada, tapi sayang kolamnya yang tidak ada di Indonesia. Mereka (para lulusan universitas) hanya membawa kail atau ijazahnya ke mana-mana dan kebingungan mau mancing di mana," kata Triyogi.

Tri Yogi menilai, kesempatan untuk bekerja di negeri sendiri seharusnya dibuka selebar-lebarnya. Dia mengibaratkan, jika semua kolam tertutup, maka tidak ada kesempatan bagi para sarjana itu untuk memancing.

Padahal, kata Tri Yogi, sumber daya manusia (SDM) Indonesia perlu ditingkatkan, dari segi kemampuan (kualitas) dan jumlah (kuantitas). Apalagi Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar dengan jumlah penduduk mencapai 240 juta jiwa.

"Potensi pasar besar itu bagi siapa? Jangan sampai bagi negara asing. Jangan sampai tenaga ahli Indonesia hanya melihat orang asing saja yang mengambil jam kerja anak-anak bangsa ini," ujarnya.

Alumnus S3-Docteur en Mecanique INP Grenoble, Prancis periode 1990-1993 ini mengimbuh, selain meningkatkan kualitas SDM, juga dibutuhkan kebijakan pemerintah agar mengurangi ketergantungan dengan negara asing.

Menurutnya, kampanye mencintai produk dalam negeri harus digaungkan secara terus menerus. Tri Yogi menyitir, ketika masa pemerintahan Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) ada Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (UP3DN). Berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 23 tahun 1983, tugas menteri ini adalah membantu Menteri atau Sekretaris Negara dalam mengikuti dan mongkoordinasikan pelaksanaan kebijakan dan kegiatan di bidang peningkatan penggunaan produksi dalam negeri.

"Konon akibat  kebijakan itu banyak pengusaha Indonesia yang tumbuh besar. Sehingga prekonomian negara dapat melonjak," imbuh ayah tiga anak itu.

Pecinta gowes sepeda ini mengingatkan, perlu ada perubahan agar para insinyur Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dia mengimbuh, sebuah transformasi kebiasaan memang tidak mudah, tapi harus dibiasakan.

"Dengan demikian para tenaga ahli kita bisa berkarya dan berinovasi di negeri sendiri dan memang membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar," tukasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini