Share

Pentingnya Insinyur di Era Pasar Bebas

Nurul Arifin, Okezone · Senin 22 April 2013 13:49 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 22 417 795480 yQSKumfBlB.jpg Rektor ITS Tri Yogi Yuwono. (Foto: Nurul Arifin/Okezone)

SURABAYA - Genderang pasar bebas melalui penerapan Asean China Trade Area (ACFTA) sudah ditabuh sejak Januari 2010 lalu. Asean Community 2015 juga sudah di depan mata. Tak pelak, tantangan dan harapan bagi bangsa Indonesia sebagai sebuah kawasan yang menuju perdagangan bebas pun menuntut kesiapan perguruan tinggi. Kampus harus dapat mempersiapkan alumninya agar tidak tergerus dan kalah bersaing dengan komunitas regional.

Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA, menilai, Asean Community adalah sebuah percaturan global yang akan menjadikan Indonesia lebih baik atau sebaliknya. Akibatnya, persiapan diri menjadi sebuah kemutlakan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

Kedua persoalan ini, kata Triyogi, sangatlah mendesak bagi bangsa Indonesia. Belum lagi ditambah dengan persoalan korupsi yang mengganggu pemerataan kesejahteraan rakyat dan daya saing global. Untuk menghadapi ACFTA dan Asean Community 2015 itulah ITS harus berupaya keras untuk memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negara.

"ITS harus mampu menyediakan akses masuk yang seluas-luasnya kepada siapa saja yang ingin melanjutkan pendidikannya di ITS dengan mutu tinggi tetapi biaya pendidikan yang tetap terjangkau," ujar Triyogi ketika berbincang dengan Okezone, baru-baru ini.

Doktor lulusan Instite National Polytecnique de Grenoble, Prancis, itu mencontohkan, sekira 15 tahun lalu, diduga bahwa jumlah mahasiswa sains dan teknologi di Inggris mulai lebih sedikit dibanding jumlah mahasiswa sastra, ekonomi dan lain-lain. Prediksi itu terbukti, sekira dua bulan lalu Inggris mengoreksi pertumbuhan ekonomi hanya nol persen, namun pada akhir tahun ini diprediksi mencapai negatif 0,4 persen.

Sementara di Indonesia, dari data yang ada, jumlah lulusan perguruan tinggi Indonesia di bidang sains dan teknologi pada 2010 tercatat 15 persen dari total lulusan yang ada. Sedangkan angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi sekira 26 persen.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang baik saat ini, yakni enam persen, dan pendapatan per kapita sekira USD3.500, maka pada 2015 diperkirakan akan mencapai USD5.000. Dan pada 2045, genap 100 tahun Indonesia merdeka, sekira USD45 ribu.

"Sejalan dengan itu, pertumbuhan lulusan sains dan teknologi juga harus dipersiapakan dari 15 persen (tahun 2010) menjadi 22 persen (2015) dan 35 persen (2045). Dengan demikian, ITS harus mampu meningkatkan jumlah lulusan dalam bidang sains dan teknologi dengan bekal pengetahuan dan wawasan yang baik," imbuh pecinta gowes sepeda itu.

Peningkatan jumlah lulusan, ujar Triyogi, juga termasuk peningkatan kemampuan soft skill, khususnya jiwa kewirausahaan dalam bidang technopreneurship. Tentunya, hal ini juga dilakukan oleh kampus teknik lainnya di Indonesia seperti Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Perang-perang kampus itu sangat penting. Namun kembali kepada kebijakan pemerintah agar lulusannya tidak berpindah ke luar negeri," tukasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini