Share

Kerjasama Kampus dan Industri Harus Erat

Nurul Arifin, Okezone · Senin 22 April 2013 19:05 WIB
https: img.okezone.com content 2013 04 22 417 795682 H4klLSWieE.jpg Rektor ITS Tri Yogi Yuwono. (Foto: Nurul Arifin/Okezone)

SURABAYA - Adalah keniscayaan, setelah lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana, kita akan mencari kerja di berbagai perusahaan idaman. Tetapi, sering kali perusahaan tidak mendapatkan tenaga kerja yang mereka butuhkan karena kualitas lulusan perguruan tinggi yang tersedia tidak sesuai dengan kualifikasi yang dicari dunia industri.

Masalah ini pulalah yang ditemukan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi bidang teknik dan sains. Padahal, menurut Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA., idealnya akselerasi ekonomi suatu negara didukung oleh banyak sarjana, khususnya bidang teknik dan sains.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Karena itulah, perguruan tinggi secara sungguh-sungguh perlu memperbaiki output intelektual. Perlu ada pembenahan kurikulum dan fasilitas. Khusus di perguruan tinggi teknik, difokuskan berbasis riset yang membumi di masyarakat," kata Tri Yogi, ketika berbincang dengan Okezone belum lama ini.

Nakhoda ITS hingga 2015 ini menjelaskan, riset yang membumi adalah riset yang dapat langsung dinikmati oleh masyarakat. Caranya, kata Tri Yogi, kampus sebagai pihak pelaksana riset dapat bekerjasama dengan dunia industri dalam upaya implementasi hasil penelitian mereka.

Meski demikian, Tri Yogi mengingatkan, kampus bukanlah pabrik yang menciptakan berbagi produk secara massal. Contohnya, ITS telah menghasilkan berbagai karya aplikatif dari hasil riset para civitas academicanya. Dalam bidang automotif, ITS memiliki mobil Sapu Angin, mobil tenaga surya dan mobil tenaga listrik. Namun, inovasi tersebut belum bisa dinikmati masyarakat karena ITS bukanlah pabrik otomotif. Untuk menyebarkan hasil riset ini, maka ITS perlu bekerjasama dengan dunia industri.

"Perguruan tinggi memang hanya menjadi lembaga pendidikan, bukan tempat produksi masaal sebuah produk. Selama ini memang ada kerjasama dengan industri-industri, namun sifatnya masih parsial, pemerintah perlu mendukung penciptaan kerjasama yang lebih masif," jelas Tri Yogi.

Alumnus Diplome d'Etude Approfondies (DEA) en Mecanique, Institute National Polytechnique de Grenoble (INPG), Prancis itu mengingatkan, sinergi antara perguruan tinggi dengan dunia industri tidak boleh ada kesan saling menunggu. Pemerintah juga berperan  mendorong agar kerjasama ini semakin kuat. Di ITS sendiri, peran jembatan karya mahasiswa dengan dunia industri ditangani oleh Direktorat Inovasi, Bisnis dan Ventura.

Meski mendorong budaya riset, ayah tiga anak ini tidak menutup kesempatan para mahasiswanya untuk bekerja di perusahaan. Dia menilai, tidak ada yang salah ketika mahasiwa memiliki harapan dapat bekerja di sebuah perusahaan elite dan mendapat gaji yang besar. Harapan itu, kata Tri Yogi, akan membuat para lulusan perguruan tinggi lebih semangat dalam menggapai masa depan.

"Ilmu yang diterima di kampus tentu membuat idealisme mahasiswa sangat tinggi. Tapi tidak salah juga bercita-cita bekerja di perusahaan dengan gaji yang besar. Kami juga membekali mahasiswa ITS dengan ilmu technopreneurship, agar bisa menciptakan lapangan kerja," jelasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini