Image

Inilah Sepak Terjang Jenderal Susno

Misbahol Munir, Jurnalis · Jum'at 03 Mei 2013, 10:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2013 05 03 339 801569 botnOYKnCQ.jpg Komjen Pol (Purn) Susno Duadji (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA - Akhirnya, mantan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen (Purn) Susno Duadji, menyerahkan diri ke Kejaksaan. Namun, selama beberapa minggu terkahir kemarin pihak Kejaksaan dan Mabes Polri dibuat kalangkabut, lantaran Susno tak mau dieksekusi.

Bagaimana rekam jejak eksekusi Susno hingga membuat kedua lembaga penegak hukum itu bersitegang?  

Semenjak Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi dan tetap menyatakan Susno bersalah dan dihukum 3 tahun 6 bulan penjara. Kejaksaan Agung meulai bersiap-siap mengeksekusi Susno.

 

"Kejaksaan sebagai pelaksana undang-undang dan eksekutor tentu harus melaksanakan isi putusan hakim yang sudah Inkracht," ungkap Wakil Jaksa Agung Darmono kepada wartawan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa, 19 Februari lalu.

 

Melalui kuasa hukumnya, jenderal bintang tiga itu menghormati putusan MA dan bersedia untuk dibui.

 

"Saya sangat menghormati putusan pengadilan dan saya siap menerima dan melaksanakan semua prosedur dan tindakan eksekusi yang benar dan berdasarkan hukum yang jelas dan pasti," ujar juru bicara Susno, Avian Tumengkol menirukan pernyataan Susno melalui pesan elektronik.

 

Avian juga menegaskan, jika Susno tidak akan lari kemanapun. Dia berjanji akan taat menjalani proses hukum sebagai warga negara yang baik sesuai aturan yang berlaku.

 

"Tanah air saya hanya satu selama hayat di kandung badan. Sudah dua tahun tidak dikurung. Saya selalu ada di Indonesia dan akan selalu menetap disini," tegas Avian menirukan Susno.

 

Namun, tak lama kemudian Susno menolak dengan berlindung pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tanggal 22 November 2012 terkait ketentuan pasal 197 KUHAP yang mengharuskan adanya perintah eksekusi.

 

Bahkan, surat panggilan ketiga dari Kejaksaan itu tak dihiraukan Susno. Pasalnya, surat panggilan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dinilai menyalahi prosedur. Sebab, di dalam surat tersebut tidak ditandatangani oleh Kepala Kejaksaan Negeri, tetapi hanya ditandatangani setingkat Kasie.

 

"Seharusnya ditandatangani Kejari. Akan dikaji lagi. Seperti yang kemarin, yang hari ini, Pak Susno tak memenuhi panggilan juga, karena tanda tangannya masih begitu. Apa dasarnya jemput paksa," tukas Juru Bicara Keluarga Susno, Avian Tumengkol, di rumah Susno di Jalan Cibodas, Puri Cinere, Depok, Selasa, 19 Maret.

 

Rencana eksekusi terus dijalankan, namun Susno sudah mulai menghilang dari beberapa rumah yang ditempatinya. Untuk melawan eksekusi, Susno mengerahkan kuasa hukumnya yang melawan kejaksaan. Pihkanya juga menduga ada pihak-pihak yang sengaja merekayasa hasil putusan Mahkamah Agung (MA).

 

"Kami menduga adanya proses rekayasa yang dilakukan jaksa apabila memaksa eksekusi karena menjalankan amar putusan yang sudah mereka rekayasa jelas kami akan tolak. Kami akan melakukan langkah hukum," ungkap kuasa hukum Susno, Fredrich Yunadi di kantornya, Jalan Melawai, Jakarta, Jumat, 22 Maret lalu.

 

Menurut Fredrich, banyak pihak yang tidak senang dengan Susno. Pasalnya, Jenderal Polisi Bintang Tiga ini banyak membongkar kasus besar dan mafia hukum di Indonesia.

 

"Jangan salah Pak Susno yang membongkar soal Gayus lho. Beliau itu membongkar mafia daripada Antasari. Beliau itu mengapa sekarang dijelek-jelekan, karena beliau itu satu-satunya pejabat yang berani, menangkap Ketua KPK. Buktinya Antasari itu malah dijebloskan," paparnya.

 

"Jadi ya rasa dendam, karena beliau terlalu tahu banyak. Seperti Century, begitu banyak data-data yang ada di beliau. Yang mencegat, menahan Century siapa?" lanjutnya.

 

Adu tafsir antara kuasa hukum Susno dengan kejaksaan terus berlanjut. Kedua belah pihak bersikukuh dengan argumentasi masing-masing. Akhirnya, tiga bulan kemudian, tim gabungan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, Kejati Jawa Barat, dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandung, menggunakan sekira 10 mobil menjemput paksa Susno di rumahnya yang beralamat di kawasan Bukit Dago Resort, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Eksekusi berjalan alot, caleg dari Partai Bulan Bintang (PBB) itu tetap menolak untuk dieksekusi. Para elit PBB seperti Yusril Ihza Mahendra juga ikut terjun ke lokasi untuk melindungi kadernya.

 

Namun, tim gabungan kejaksaan yang sudah mengepung rumah Susno sejak pukul 10 pagi, masih kesulitan menyeret Susno ke sel.

 

Polda Jawa Barat ikut turun tangan menggelar mediasi antara kedua belah pihak di Mapolda Jawa Barat. Ini dilakukan untuk membicarakan proses eksekusi atas putusan MA. Paska-mediasi, Susno pun lari ke Jakarta meminta pengamanan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

 

Lembaga Polri mendapat cibiran miring dari publik karena dinilai ikut melindungi terpidana kasus korupsi pengaman Pilkada Jawa Barat 2007 dan suap PT Salmah Arwana Lestari (SAL). Perang saraf antara kejaksaan dan Polri terkait kasus Susno terus bergulir.

 

Babak demi babak layaknya sinetron komedi terus dipertunjukkan dalam kasus eskekusi Susno. Tapi, Susno sudah mulai tersudut dan pihak-pihak yang diduga melindunginya sudah mulai mengendur.

 

Tim gabungan kejaksaan terus menggalakkan pencarian terhadap Susno. Bahkan, kejaksaan sempat mengeluarkan surat pencekalan terhadap Susno agar tidak melarikan diri ke luar negeri.

 

Susno kembali menghilang, tapi tak lama kemudian, Susno muncul melalui video Youtube yang berjudul Susno Duadji, yang diunggah oleh Yihana Celia, dengan durasi 15 menit 34 detik.

 

Yihana juga menuliskan sub judul, "Jangan tuduh aku membangkang justru aku berjuang menegakan hukum, kebenaran dan keadilan.

 

Dalam video itu, mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri tersebut membeberkan semua perkara hukum yang membelitnya.

 

Dengan menggunakan batik biru, Susno mempertanyakan, apa motif Jaksa Agung ataupun pihak Kejaksaan memaksakan eksekusi terhadap dirinya. Berikut, pemaparan Susno dalam video itu. Dia mencurahkan melalui media sosial tentang pembelaan dirinya menolak eksekusi kejaksaan. Polri akhirnya, ikut membantu melacak posisi Susno saat menggunggah videonya.

 

Sepak terjang sang jendral bintang tiga itu berakhir pagi tadi. Susno menyerahkan diri kepada kejaksaan di kawasan Cibinong, Jawa Barat, Jumat (3/5/2013).

 

Menurut, Ketua Majelis Syuro PBB, Yusril Ihza Mahendra, Susno menyerahkan diri untuk menjaga tegaknya hukum dan kasus ini tidak semakin berlarut-larut. "Karena tujuannya untuk menarik perhatian komponen bangsa atas ketidakadilan dan penegakan hukum yang arogan sudah tercapai," kata Yusril menirukan pesan Susno.

 

Saat ini sang jenderal mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor, Jabar.

(hol)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini