Pengakuan Admin Prostitusi Online dalam Menjalankan Bisnisnya

Tri Ispranoto, Okezone · Senin 15 Juli 2013 16:39 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 15 526 837260 dqFoCb0a2u.jpg Pelaku prostitusi online Bogor (Foto: Tri Ispranoto/Okezone)

BANDUNG - Masih ingat dengan kasus prostitusi online melibatkan seorang mahasiswa di Bogor, Jawa Barat? Kasus yang ditangani Polda Jabar itu telah sampai di persidangan. Sidang digelar di Pengadilan Negeri Bandung itu telah sampai pada pemeriksaan terdakwa.

 

Dalam persidangan, terdakwa Hemud Farhan (24), mengaku hanya pihak orang yang disuruh oleh para perempuan pekerja seks komersial untuk dipromosikan di dunia maya.

 

“Saya kenal Syifa (PSK) di kafe. Kami sering ngobrol dan dia orangnya terbuka sama saya. Dia bilang minta tolong ke saya, dia bilang dia bisa ngelayanin (lelaki)," tutur Farhan di hadapan Majelis Hakim, Senin (15/7/2013).

 

Dari situ, pada Desember 2012 Farhan mulai membuat blog untuk membantu Syifa menjual diri. Hingga akhirnya Syifa di-booking oleh pria hidung belang.

 

Syifa lantas menceritakan Farhan kepada teman-teman lainnya hingga akhirnya nama Farhan beken sebagai orang yang mampu 'menjual' perempuan melalui blognya.

 

“Dari situ saya kenal sama teman-teman Syifa seperti Meymey dan Maya. Saya hanya komunikasi via chat Facebook. Kalau foto-foto saya ambil dari Facebook juga," bebernya.

 

Selama berkenalan, Farhan mengaku tidak mengetahui umur para perempuan tersebut. Namun dia berspekulasi, dari tubuh dan wajah para perempuan tersebut masih ABG.

 

“Saya tidak menawarkan, mereka yang datang. Saya pasif. Saya cuma dimintai tolong cewek-cewek itu,” ungkapnya.

 

Saat majelis hakim menanyakan proses transaksi kepada terdakwa, Farhan menjelaskan secara gamblang. Mahasiswa tingkat akhir IPB itu mengaku nekat menjadi admin prostitusi online lantaran untuk menutupi biaya kehidupannya.

 

Setiap transaksi, Farhan mendapat jatah Rp200 ribu sebagai upah dari para perempuan yang dipajang di blognya.

 

“Saya memang dapat beasiswa. Tapi tetap saja untuk biaya kehidupan sehari-hari saya tidak pernah dikasih uang oleh orangtua. Uang itu saya pergunakan untuk keperluan skripsi,” kilahnya.

 

Untuk masalah harga, Farhan mengaku bahwa hal itu dipilih secara asal-asalan.

 

“Misal saya sebut Rp1,5 juta. Tapi ternyata dikasih uangnya hanya Rp1 juta. Nah dari uang itu saya dapat Rp200 ribu sekali transaksi. Saya terbuai karena dapat tipsnya. Tapi saya enggak berniat bisnis seperti itu. Saya tahu ini salah," ucapnya.

 

Atas perbuatannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Indra Pribadi mendakwa Farhan dengan Pasal 27 ayat 1 Jo Pasal 45 ayat 1 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE, Pasal 88 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan Pasal 506 KUHP tentang mucikari. Sidang akan dilanjutkan kembali pada Senin, 22 Juli 2013 dengan agenda pembacaan tuntutan.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini