Toleransi, Resep Jitu Hadapi Budaya Berbeda

Margaret Puspitarini, Okezone · Senin 05 Agustus 2013 12:30 WIB
https: img.okezone.com content 2013 08 01 560 846092 Nu2YwLljDG.jpg Ilustrasi. (Foto: okezone)

JAKARTA - Berada dalam budaya yang sangat berbeda dengan keseharian kita menuntut rasa saling mengerti. Toleransi satu sama lain dibutuhkan mengingat ada budaya yang mungkin berbenturan dengan kebiasaan atau kepercayaan yang kita anut.

Pengalaman ini yang dirasakan Syifa Fauziah saat mengikuti program pertukaran pelajar Indonesia-US Youth Leadership Exchange (IULX) 2013. Selama tiga minggu berada di Negeri Adidaya itu, dia merasa kagum atas toleransi antarumat beragama di sana.

"Kebetulan house family saya beragama Kristen, sementara saya Muslim dan berhijab. Tapi mereka memberikan kebebasan bagi saya untuk beribadah sesuai agama saya," ujar Syifa, ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu, ketika di sana, house family tempat tinggalnya juga mengajak pelajar kelas XI MA Palak Bogor tersebut ikut ke gereja. Meski sempat ragu untuk ikut, Syifa tetap pergi bersama keluarga asuhnya.

"Sempat takut karena saya kan pakai jilbab. Ketika di gereja orang-orang melihat ke arah saya tapi lama-kelamaan ketika dijelaskan oleh house family saya, mereka semua mengerti," jelasnya.

Kesempatan untuk memperdalam rasa toleransi antarumat beragam tidak hanya dialami oleh Syifa. Salah satu orangtua asuh para pelajar AS di Indonesia, yakni Lian Indramukti Dalimunte. Selama satu minggu kedatangan Madisson, dia mengaku mendapat banyak pelajaran.

"Kami ini keluarga Muslim sementara dia non-Muslim. Namun, toleransi dia (Madisson) tinggi sekali. Saat di mobil saya putar Radio Roja dia tidak masalah, tidak keberatan," ujar Lian.

Tidak hanya itu, keberadaan Madisson ternyata mendatangkan banyak manfaat. Salah satunya, kata Lian, anak-anaknya menjadi aktif berbicara bahasa Inggris. Walaupun terbatas, anak-anak Lian mencoba berusaha berkomunikasi dengan Madisson.

"Anak-anak saya itu masih kecil tapi mereka antusias ingin bicara dengan Madisson. Kalaupun tidak ketemu bahasa Inggrisnya, mereka akhirnya menggunakan body language. Saya pun belajar banyak dari dia tentang disiplin dan ketegasannya. Saat dibilang tidak boleh, dia tidak akan melakukannya," paparnya.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini