nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

USBI Pisahkan Jurang Universitas dan Industri

Margaret Puspitarini, Jurnalis · Kamis 22 Agustus 2013 18:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2013 08 22 373 854014 9jt8B1pfb9.jpg Foto : Rektor USBI Aman Wiranataksumah/USBI

JAKARTA - Tidak bisa dimungkiri masih terjadi kesenjangan antara kualitas lulusan perguruan tinggi dan industri. Hal ini pun diakui oleh pihak universitas, tidak terkecuali perguruan tinggi besutan Putera Sampoerna Foundation (PSF), yakni Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI).

Untuk itu, Rektor USBI Aman Wiranatakusumah menyebut, ada beberapa cara yang ditempuh USBI untuk meminimalisasi jurang yang ada di antara perguruan tinggi dan users. Salah satunya, melalui sebuah forum diskusi yang berisikan pihak industri dan para dosen yang diikuti oleh Aman.

"Satu hal, concern gap antara perguruan tinggi dan users dibahas melalui komunikasi dengan board dalam forum tersebut. Users akan memberitahu kebutuhan kompetensi yang harus dimiliki para lulusan perguruan tinggi dan kemudian hasilnya akan disampaikan lagi dengan dosen di masing-masing perguruan tinggi," ungkap Aman selepas wisuda angkatan pertama Fakultas Pendidikan USBI di Sampoerna Strategic Square, Jakarta Selatan, Kamis (22/8/2013).

Selain itu, lanjutnya, dalam PSF ada program Mekar yang memungkinkan mahasiswa berinteraksi dengan dunia nyata terkait pekerjaan. Dengan demikian, hasil karya mahasiswa dan lulusan bisa dikenal dan diterapkan oleh industri.

"Perangkat sudah tersedia, tinggal bagaimana lebih memperkuat dan memberdayakan fasilitas tersebut dengan baik. Yang ketiga, meningkatkan mutu pendidikan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pihak industri," jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan USBI Paulina Pannen menambahkan, salah satu keunggulan fakultas yang dulu dikenal dengan sebutan Sampoerna School of Education (SSE) itu adalah adanya program School Experience Program (SEP). Program empat tahunan itu bertujuan untuk mendekatkan mahasiswa dengan dunia kerja.

"Program ini sudah dipraktekkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan industri, dalam hal ini sekolah. Ini kami lakukan sejak semester satu tidak menunggu semester tujuh, seperti Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang umumnya dilaksanakan universitas lain," urai Paulina.

Selama kunjungan secara berkala tersebut, kata Paulina, para mahasiswa dapat membangun interaksi dengan murid dan menimba ilmu dari guru yang ada. Setiap tahun, SEP memiliki tujuan berbeda. Mulai dari tahap pengenalan hingga akhirnya mencicipi langsung menjadi seorang pengajar.

"Di tahun pertama SEP, paling tidak dua minggu sekali mereka harus ke sekolah, entah observasi atau mengerjakan tugas mata kuliah yang diberikan oleh dosen. Hingga nantinya mereka akan benar-benar mengajar di hadapan para siswa tersebut. Program ini tidak akan diterapkan ke fakultas lain, yakni Fakultas Ekonomi dan Fakultas Art Design dan Media yang akan dibuka pada tahun depan," bebernya.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini