nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pilih Wisudawan Berprestasi, USBI Tak Hanya Nilai IPK

Margaret Puspitarini, Jurnalis · Kamis 22 Agustus 2013 20:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2013 08 22 373 854058 XgQqLjfXbd.jpg Foto : Wisuda perdana Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI)/USBI

JAKARTA - Bagi kebanyakan universitas, syarat utama menjadi wisudawan berprestasi dilihat dari segi akademis. Baik masa studi tercepat, usia termuda ketika lulus, serta nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang mendekati angka sempurna, yakni 4,00.

Namun, penilaian berbeda dilakukan oleh Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) dalam memilih mahasiswa berprestasi dalam wisuda angkatan perdana mereka. Tidak hanya memperhatikan IPK, keaktifan dalam berorganisasi pun menjadi faktor penentu.

Demikian disampaikan Dekan Sampoerna School of Education (SSE) yang kini menjadi Fakultas Pendidikan USBI, yaitu Johana Rosalina Kristyanti seusai pelepasan wisuda perdana USBI. Dia menyebut, kegiatan nonakademis merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa agar bisa lulus.

"Kami ingin menghasilkan generasi pendidik yang berkualitas. Tidak hanya mencetak pendidik tapi juga kemampuan berwirausaha. Tidak hanya pintar secara akademik tapi juga punya softskill yang baik," papar Rosa di Sampoerna Strategic Square, Jakarta Selatan, Kamis (22/8/2013).

Oleh karena itu, penghargaan terhadap prestasi akademis dan non akademis mahasiswa pun diwujudkan USBI dengan menetapkan Nurkholis Ainun Najib dan Namirah Fatmanissa sebagai wisudawan berprestasi. Rosa menilai, mahasiswa yang berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Matematika itu telah memenuhi kriteria penilaian yang telah ditetapkan oleh pihak kampus.

"Mahasiswa berprestasi bukan hanya IPK. Salah satu syarat kelulusan di USBI adalah aktivitas di luar akademis. Kami menghargai softskill yang dimiliki para mahasiswa dengan mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi di luar perkuliahan," tuturnya.

Pendapat senada pun diungkapkan Nurkholis Ainun Najib dan Namirah Fatmanissa. Keduanya merasa, kegiatan berorganisasi telah melatih dan memperkaya softskill mereka yang kelak berguna dalam dunia kerja.

"Jangan merasa puas. Empat tahun itu sangat singkat. Sayang kalau selama empat tahun hanya belajar dan belajar tapi tidak diisi dengan kegiatan di luar perkuliahan," ungkap Najib yang merupakan Founder Indonesia Disable Care Community (IDCC).

(mrg)

Berita Terkait

Universitas Siswa Bangsa Internasional

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini