nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kupu-Kupu Malam Rawa Bangke

Dede Suryana, Jurnalis · Rabu 04 September 2013 12:44 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2013 09 04 504 860515 xmRJLdsU8o.jpg Ilustrasi (Foto: Istimewa)

RAWA Bangke –kini Kelurahan Rawa Bunga– berada di wilayah administratif Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Asal usul nama Rawa Bangke konon bermula dari banyaknya mayat serdadu Inggris di rawa-rawa sekitar Jatinegara.

Dikisahkan, pada awal 1800-an terjadi perseteruan antara Kerajaan Inggris dan Kekaisaran Prancis, pimpinan Napoleon Bonaparte di Eropa yang dampaknya menjalar ke seluruh dunia. Tak terkecuali Indonesia, di bawah kolonialisme Belanda yang kala itu memihak pada Prancis.

Pada 4 Agustus 1811, militer Inggris di bawah bendera English Indian Company, pimpinan Lord Minto dan Letjen Sir Samuel Aucmuty, dengan kekuatan 12.000 tentara menyerbu Pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan Kolonial Belanda di Nusantara.

Inggris merasa terancam oleh bersatunya Belanda-Prancis usai tergulingnya Raja Louise oleh Napoleon. Inggris yang mendarat di Cilincing kemudian bergerak menggempur Batavia dan militer Inggris berhasil menaklukkan Gubernur Hindia Belanda pengganti Daendels –si anak emas Napoleon– Gubjen Van Jansen. Inggris lantas mengangkat Letnan Gubernur Sir Thomas Stanford Raffles sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda.

Napoleon yang marah dipecundangi kemudian membuat rencana balas dendam besar-besaran atas kekalahan Belanda sebagai sekutu Perancis di Pulau Jawa. Sebaliknya, Inggris tak tinggal diam. Mereka membangun pertahanan meriam di sepanjang lintasan Matraman karena menduga serbuan serdadu Prancis akan datang dari arah Ancol.

Namun perkiraan Inggris salah. Pada Oktober 1813 serdadu Perancis yang juga mendarat di Cilincing tidak masuk melalui Ancol, melainkan gerilya ke hutan-hutan dan rawa lalu masuk dari arah timur (Jatinegara) dan menyergap pertahanan Inggris di Matraman secara mendadak.

Terjadilah pertempuran sengit di Matraman. Namun pasukan Inggris yang terdesak luluh lantak dihancurkan Perancis. Ratusan serdadu Inggris yang tewas selanjutnya dibenamkan di rawa-rawa sekitar Jatinegara.

Sejak saat itulah, daerah ini dikenal dengan Rawa Bangke hingga awal tahun 1980-an. Seiring berjalannya waktu, Rawa Bangke berubah nama menjadi Rawa Bunga karena banyaknya perempuan-perempuan penghibur di daerah ini.

Pada 1990-an, wilayah Rawabunga dimekarkan menjadi dua bagian. Kawasan kecil yang berada di depan Stasiun Kereta Api Jatinegara menjadi daerah Rawabening, sedangkan satunya tetap dengan nama yang sama. Kini Rawabening menjadi pusat perbelanjaan batu permata, batu aji, batu akik, dan koleksi benda-benda purbakala terbesar kedua di Asia Tenggara.

*Diolah dari berbagai sumber

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini