Kemenangan Pasangan DIA Kejutan di Pilkada Makassar

Arpan Rachman, Okezone · Kamis 19 September 2013 05:40 WIB
https: img.okezone.com content 2013 09 19 340 868353 v0Nqqtr11c.jpg

MAKASSAR – Dari hasil Real Quick Count sementara IDEC (Indonesia Development Engineering Consultant) berdasarkan data akhir 33,35 persen dari total suara TPS atau 191,139 suara, pukul 16.00 WITA di kota Makassar, pasangan Danny Pomanto-Samsu Rizal (DIA) unggul atas sembilan pasangan lain.

 

“Keunggulan DIA sebenarnya sejak awal sudah diprediksi oleh IDEC sejak Juni-September 2013, seperti hasil survei IDEC Agustus-September 2013,” kata Rahmad M Arsyad, Direktur Riset IDEC, kepada Okezone, Rabu (18/9/2013) malam.

 

Rahmad menjelaskan, beberapa faktor menyebabkan pasangan ini bisa melejit dibandingkan kandidat lain. Pertama, kandidat ini didukung oleh struktur elit politik dan elit birokrasi. Soliditas politik di bawah pengarahan Ilham Arief Sirajuddin dan pendekatan program yang dibangun oleh Danny Pomanto secara langsung telah membuat kepercayaan publik semakin meningkat.

 

Kedua, sampai tanggal 3 september 2013 komposisi elektoral masih mengarah pada kondisi dua putaran. Namun, sebagaimana prediksi IDEC sebelumnya enam hari jelang pemilihan walikota ditentukan oleh massifnya pergerakan kandidat  dan kemampuan dalam melakukan penetrasi politik.“Pasangan DIA jika mengacu pada hasil yang ada memang lebih massif dalam melakukan pendekatan langsung pada pemilih,” ungkap Rahmad.

 

Menurut kandidat doktor di Universitas Padjadjaran ini, dari gambaran pemilih memang faktor paling utama yang mempengaruhi pemilih adalah kemampuan figur kandidat. Pada level figuritas pasangan DIA memang menjadi figur dengan kepercayaan tinggi oleh pemilih dengan kapasitas kepercayaan figur di atas 33,4 persen.

 

“Dengan kondisi seperti ini maka wajar saja pada akhirnya elektoral menjatuhkan pilihan kepada pasangan Danny Pomanto- Syamsu Rizal,” tambah Dosen Universitas Bina Nusantara ini.

 

Mengacu pada hasil ini, peluang mencapai satu putaran semakin terbuka. Walau sebaiknya setiap tim dan kandidat mesti menahan diri sampai rekapitulasi suara yang dilakukan oleh lembaga resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar.

 

“Menghindari gesekan politik dan mempersiapkan struktur birokrasi yang lebih baik bagi Makassar ke depan jauh lebih penting dibandingkan menghabiskan waktu pada pusaran konflik. Masyarakat sudah terlalu lelah  dengan konflik,  apalagi pasca-Pilkada para pemilih akan dihadapkan pada tahun Pemilu 2014 yang akan menyedot energi rakyat,” tuntas Rahmad.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini