Share

Belajar Pancasila, 12 Ulama Afganistan Berguru ke UGM

Margaret Puspitarini, Okezone · Sabtu 21 September 2013 14:19 WIB
https: img.okezone.com content 2013 09 20 373 869472 S1LAR5zqZM.jpg Ulama yang berkunjung ke UGM. (Foto: dokumentasi UGM)

JAKARTA - Indonesia terdiri dari bangsa dan budaya yang multikultural. Oleh karena itu, toleransi yang tinggi sangat dibutuhkan. Prinsip tersebut bahkan sudah dicanangkan sejak awal melalui dasar negara, yakni Pancasila.

Ingin mempelajari lebih jauh tentang Pancasila, sebanyak 12 ulama terkemuka dari 12 provinsi di Afghanistan pun menyambangi kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dipimpin oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu melakuan diskusi dengan para pakar UGM terkait perkembangan kehidupan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Wakil Sekjen PBNU Abdul Munim mengatakan, 12 ulama dari Afghanistan itu sengaja didatangkan ke Indonesia untuk mengetahui lebih jauh tentang Pancasila. Sebab, mereka meyakini Pancasila sebagai pemersatu kehidupan masyarakat Indonesia yang terkenal majemuk.

"Mereka tahu Indonesia bisa rukun karena Pancasila. Mereka ingin belajar, karena mereka yang hanya punya satu agama saja tidak bisa rukun dan saling bertengkar,” ujar Munim, seperti dilansir oleh Okezone, Sabtu (21/9/2013).

Ketua Tim Delegasi Afghanistan Fazal Gahani menyampaikan, kondisi Afghanistan saat ini tidak seperti yang diberitakan oleh media asing, yaitu perang, bom bunuh diri, dan konflik antar kelompok. Bahkan, para pemuka agama selalu menyerukan perdamaian dalam setiap kesempatan.

"Dalam ceramah, setiap ulama di Afghanistan selalu menyampaikan pesan pentingnya menjaga perdamaian. Sesama ulama kita selalu mengajak semua ulama bersatu dan memberi pengertian agat rakyat juga ikut bersatu," ungkap Gahani.

Dia menambahkan, mayoritas rakyat Afghanistan cinta damai. Namun masuknya negara asing yang menjadikan konflik antar kolompok di Afghanistan tidak pernah usai. Bahkan negara luar tersebut berkompetisi memperebutkan sumber ladang minyak dan gas bumi. "Banyak tambang minyak dan gas bumi yang belum dieksplorasi karena masalah keamanan," jelasnya.

Selain mengajak organisasi masyarakat (ormas) Islam dan akademisi UGM ikut berkontribusi merealisasikan perdamaian di Afganistan, dia berharap UGM juga membantu pendidikan di Afghanistan.

Pasalnya negara ini masih kekurangan tenaga pengajar. "Kami masih kekurangan dosen dan guru. Saya kira Indonesia bisa bantu dosen dan guru belajar di sini," papar Gahani.

Pendapat senada juga disampaikan Ulama dari provinsi Nooristan Shafiullah Sahfi. Dia berharap ormas Islam segera bergerak membantu perdamaian di negaranya. "Tahun depan, tentara asing akan keluar dari Afganistan. Banyak rakyat yang senang, tapi ada juga khawatir jika tentara asing keluar, Afghanistan jadi tidak aman," kata Sahfi.

Selain berkunjung ke UGM, rombongan ulama Afghanistan ini juga berkunjung ke lokasi pesantren di Surabaya dan Yogyakarta serta bertemu tokoh agama.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini