nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sutarman, Penjual Tongseng yang Sukses Jadi Jenderal

Bramantyo, Jurnalis · Selasa 01 Oktober 2013 12:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2013 10 01 158 874637 brcxczqeit.jpg Sutarman

SOLO - Sosok Komjen (Pol) Sutarman ternyata jauh dari kesan glamor. Di masa mudanya, calon tunggal Kapolri ini bahkan pernah menjadi kuli bangunan dan berjualan tongseng untuk menyambung hidup, sebelum akhirnya diterima masuk Akabri.

 

Lahir di sebuah desa kecil di wilayah Sukoharjo 5 Oktober 1957, tepatnya di RT 003 RW 011 Dayu, Desa Tawang, Kecamatan Weru, atau berjarak 5 kilometer dari pusat kota, 55 tahun lalu, Sutarman kini menjadi petinggi kepolisian.

 

Sutarman terlahir dari keluarga petani yang sangat sederhana. Ayahnya bernama Pawiro Miharjo dan ibunya Samiyem. Ibu kandung Sutarman, Samiyem meninggal dunia akibat sakit sakit kanker payudara yang dideritanya.

 

Sutarman adalah sulung dari lima bersaudara. Sejak kecil kakak dari Harmini Tekno, Haryati dan  Harwanti sejak kecil sudah berkeinginan masuk  AKABRI. Keluarganya sama seperti penduduk desa lainnya yang berprofesi petani. Bahkan sampai saat ini ayahnya masih mengerjakan sawah sendiri dan beternak sapi.

 

Saat Okezone bertandang, rumah orangtua calon tunggal Kapolri ini tampak sepi. Rumah bercat putih dan berpagar besi warna coklat terlihat di kunci gembok dari dalam. Menurut mbah Iyem, tetangga dekat orangtua Sutarman, bapak dari Calon Kapolri ini ini hanya tinggal berdua saja di rumah yang besar tersebut.

 

"Ten griyo namung sekalian mawon (di rumah hanya berdua saja)," jelasnya mengawali pembicaraan dengan Okezone di Weru, Sukoharjo, Jawa Tengah.

 

Menurut mbah Iyem, tiap hari mbah Pawiro mengurusi sawah yang ada di  desa sebelah. Jika di rumah mengurus sapi yang jumlahnya dua ekor.

 

Kesan mewah tak terlihat dari kondisi bangunan tempat tinggal Sutarman. Seperti umumnya rumah pedesaan, rumah Sutarman memiliki halaman yang luas. Yang membedakan dengan rumah yang lain adalah pagar tembok yang mengelilingi seluruh bangunan rumah.

 

Ketua RW 011 Dukuh Dayu, Sugimin, mengatakan rumah itu kini ditinggali oleh ayah, ibu tiri Sutarman. "Memang sepi, rumahnya lagi pada pergi, katanya bapaknya lagi ke Singapura. Berangkat sejak Sabtu, pekan lalu. Sedangkan ibu tirinya tidak ikut ada di sawah, " jelas Sugimin.

 

Ketika ditanya bagaimana kehidupan Sutarman sewaktu kecil dia menyebutkan Sutarman kecil adalah anak yang pintar, disiplin, rajin dan pekerja keras. Sejak SMP sudah membantu orang tuanya dengan berjualan bambu, bekerja di sawah sampai menggembala kerbau.

 

Saat kecil Tarman -begitu Kabareskim ini biasa di panggil- bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ganggang, Weru. Selepas itu melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Cawas, Klaten dan dan masuk  STM di Sukoharjo (sekarang Bina Patria I Sukoharjo) jurusan mesin.

 

Setelah lulus STM Tarman berniat untuk masuk Akabri, namun karena pada saat itu usianya belum cukup, Tarman dinyatakan tidak lulus. Sosok Tarman yang ulet, rajin dan pekerja keras  membuatnya tidak mau berpangku tangan saja.

 

Setelah tidak lolos ujian masuk Akabri Tarman sempat menjadi kuli bangunan. Tak hanya itu saja Tarman sempat berjualan bambu keliling. "Saya diceritain ayahnya, Tarman sempat tidak mau lagi mendaftar ke Akabri. Tapi bapaknya terus memecut Tarman agar tidak putus asa,"ujarnya.

 

Selain menjadi kuli bangunan dan berjualan bambu keliling, Tarman ikut temannya Simin berjualan tongseng keliling yang dijajakan dengan cara dipikul di sekitar pasar Gembrong, Pasar Senin, Jakarta.

 

Selama satu bulan itulah, Simin saat ditemui terpisah menceritakan bila Tarman tanpa rasa malu berkeliling menjajakan tongseng. Bahkan meskipun dirinya bisa dikatakan guru membuatkan tongseng, dalam waktu singkat Tarman bisa mempelajari cara membuat tongseng. "Bisa dikatakan saya kalah sama Tarman. Dia lebih jago buat tongsengnya," ujarnya.

 

Menurut Tyo -biasa Simin dipanggil- Tarman hanya satu bulan saja ikut berjualan tongseng sebelum akhirnya Tarman pamit untuk menjadi kuli bangunan lagi. Sebelum akhirnya, Tarmin datang ke tempat dimana dulu dia berjualan tongseng dengan berseragam polisi.

 

"Jelas saya dan yang lainnya kaget. Pamitnya mau jadi kuli bangunan lagi, tahu-tahu datang ke sini (tempat berjualan tongseng) sudah pakai baju polisi," paparnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini