Share

"Jika Ada Anak yang Salah, Jangan Disalahkan"

Margaret Puspitarini, Okezone · Jum'at 11 Oktober 2013 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2013 10 10 560 879932 mIoxVs6j3S.jpg Ilustrasi. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

JAKARTA - Kurikulum 2013 masih menjadi topik menarik untuk dikupas dari berbagai segi. Tidak terkecuali program studi (prodi) Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan menggelar seminar nasional bertajuk "Bahasa Jepang dan Penerapan Kurikulum 2013".

Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memperluas wawasan pengajar bahasa Jepang dalam menghadapi kurikulum 2013. Tidak sia-sia, dalam acara tersebut, hadir sekira 160 peserta dari kalangan mahasiswa, guru, mahasiswa program Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan pemerhati bahasa Jepang.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Ada tiga pembicara pada seminar nasional tersebut, yakni Yuyu Yohana R dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Roni dari Unesa, dan Mr. Matsumoto Koji dari Japan Foundation. Sebagai pembicara pertama, Yuyu memaparkan tentang perbedaan antara bahasa Indonesia dan Jepang.

"Masyarakat Jepang berpola pikir homogen sedangkan masyarakat Indonesia berpola pikir heterogen. Jadi butuh sedikit pemahaman di antara dua negara agar bisa saling menyatu, yakni komunikasi yang baik," ungkap Yuyu, seperti dilansir Okezone, Jumat (11/10/2013).

Selanjutnya, Roni dan Matsumoto menjelaskan tentang kurikulum 2013 sekaligus penerapannya pada mata pelajaran bahasa Jepang. Rudi pun membandingkan kurikulum 2013 dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dengan menganalogikan menjahit sebuah pakaian utuh.

"Pada KBK 2004 dan KTSP 2006, kita mengukur tiap bagian, memilih kain terbaik pada masing-masingnya, dan semakin banyak varian semakin bagus. Padahal hasilnya akan seperti baju compang-camping. Tapi pada Kurikulum 2013, kita memilih dulu kain terbaiknya, baru kita ukur secara keseluruhan, hasilnya bisa menjadi kemeja yang sangat bagus," urai Roni.

Dengan demikian, katanya, guru harus mampu melihat hasil belajar siswa sebagai sebuah proses. Kesalahan yang dilakukan murid adalah pelajaran untuk membantunya menjadi lebih baik. "Jadi bila ada siswa yang salah, jangan disalahkan. Tapi, arahkan pada jawaban yang baik dan benar,” imbuhnya.

Di sesi terakhir, Matsumoto memberi materi terapan kurikulum 2013 pada mata pelajaran bahasa Jepang kepada para peserta secara langsung. Hal ini mendapat sambutan luar biasa dari para peserta seminar karena Matsumoto mengajak para peserta observasi pada sebuah kata, memberikan pertanyaan, menonton sebuah video, dan berbagai kegiatan interaktif lainnya.

Sambutan positif pun datang dari para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, baik para guru maupun mahasiswa. Doni Langitan yang merupakan Guru PPG dari SMAN 7 Surabaya, misalnya. Dia mengaku mendapat banyak ilmu dari seminar tersebut.

Hal senada turut disampaikan salah seorang mahasiswa prodi Bahasa Mandarin Unesa angkatan 2010. "Seminarnya asyik sekali sekaligus menambah wawasan tentang kurikulum 2013 untuk ke depannya nanti," tutupnya.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini