Share

Sabet Gelar Doktor dari Teliti Hunian Suku Dayak Bukit

Ade Hapsari Lestarini , Okezone · Jum'at 01 November 2013 14:11 WIB
https: img.okezone.com content 2013 11 01 373 890425 kUqbXjytSy.jpg Bani Noor Muchamad yang meraih gelar doktor di UGM. (Foto: dok UGM)

JAKARTA - Sebuah rumah berfungsi untuk melindungi diri kita dari serangan sinar matahari dan berteduh dari terpaan hujan. Nah, ternyata rumah atau hunian tidak selalu berfungsi demikian, tetapi juga menyatukan nilai kekerabatan.

Seperti hunian suku Dayak Bukit yang menjadi sebuah entitas arsitektur serta berfungsi sebagai tempat tinggal bagi sekelompok keluarga inti yang masih memiliki ikatan kekerabatan.

Dalam setiap hunian, selalu terdapat sebuah balai-adat yang berfungsi sebagai wadah (tempat tinggal) dan sebuah kekerabatan yang menyatukan penghuninya dan menjadikan balai-adat sebagai sebuah hunian.

"Balai-adat dan bubuhan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan antara wadah dan isinya," papar Bani Noor Muchamad pada ujian promosi doktor Program Pascasarjana Fakultas Teknik UGM, di KPTU FT UGM, seperti dikutip Okezone dalam siaran persnya, Jumat (1/11/2013).

Pada ujian ini, Bani mempertahankan disertasinya yang berjudul Arsitektur Hunian Suku Dayak Bukit (kajian atas perubahan dan keragaman dengan pendekatan etnografi) dengan tim promotor Prof. Ir. Tony Atyanto Dharoko, M.Phil., Ph.D., Dr.Ir. Arya Ronald., dan Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil.

Bani menambahkan, balai-adat selalu memiliki sebuah ruang inti yang menjadi pusat kegiatan, pengikat dan orientasi ruang-ruang, serta pemersatu segenap penghuninya. Dalam skala hunian yang lebih luas (skala kampung), balai-adatlah yang menjadi inti permukiman. Ruang inti selalu dipertahankan sementara ruang-ruang lain dapat berkembang (tumbuh) dengan berorientasi pada ruang inti yang ada.

"Adapun bubuhan adalah ikatan kekerabatan di antara keluarga-keluarga inti yang menghuni balai-adat. Bubuhan inilah yang menjadi pengikat sekaligus simbol eksistensi tiap kelompok masyarakat suku Dayak Bukit," papar staf pengajar pada Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat itu.

Kedua konsep (balai adat dan bubuhan) ini saling berkaitan, melengkapi, dan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Meskipun demikian, secara hierarkis kedua konsep tersebut memiliki kedudukan yang berbeda. Dilihat dari arasnya, konsep bubuhan berada lebih tinggi kedudukannya.

Hal ini disebabkan terbentuk dari fenomena-fenomena empiri yang bersifat abstrak dan menyangkut nilai-nilai, norma, aturan, adat, tradisi, dan budaya yang berada dalam-diri (pikiran dan tindakan) masyarakat.

"Kalau konsep balai-adat terbentuk dari fenomena fisik arsitektural dan pembentuk konsep balai-adat terikat pada ruang (hunian dan masyarakat)," urai Bani.

Penelitian tersebut mengambil lokasi di suku Dayak Bukit di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan, dilatarbelakangi fenomena yang terjadi pada hunian suku Dayak Bukit.

Dahulu, hunian suku Dayak Bukit adalah balai-adat yang dibangun berpindah-pindah mengikuti lokasi ladang tiap kelompok. Namun, dalam perkembangannya terjadi perubahan termasuk arsitektur hunian (balai-adat) mereka, baik pada ruang dan bentuknya.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini