nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apa Sih Penyebab Kenakalan Remaja?

Rachmad Faisal Harahap, Jurnalis · Selasa 19 November 2013 20:56 WIB
https: img.okeinfo.net content 2013 11 19 560 899619 8FgGPLVpg6.jpg Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

JAKARTA - Perilaku brutal, radikal, kasar, ditunjukkan oleh remaja saat ini. Mulai dari tawuran antarsekolah, membajak bus untuk kepentingan kelompoknya, sampai menyiram air keras di dalam bus salah satu contohnya.

Masyarakat pun mulai geram menyikapi kelakuan para remaja tanggung tersebut. Kenapa hal ini bisa terjadi? Sebenarnya faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kalangan pelajar bisa melakukan hal-hal menyimpang seperti ini?

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Zulkarnaen Sinaga mengaku prihatin melihat para remaja yang bersikap kriminal. Dirinya pun mencoba mengevaluasi, jika di sekolah tidak ada pendidikan radikal. Begitu pula dengan masyarakat, tidak ada yang bertindak radikal.

"Apalagi di rumah masing-masing, mereka juga tidak ada. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Seperti halnya di DKI Jakarta yang kian banyak tindak kriminal yang melanda kalangan remaja, lalu apa faktor penyebabnya?" tanya dia, saat dihubungi Okezone, Selasa (19/11/2013).

Zul, begitu dia akrab disapa, memberikan beberapa pandangan bahwa para remaja yang radikal tersebut disebabkan tidak adanya ruang publik. Artinya, ruang di mana tidak ada kesempatan untuk berkreasi dan menjadi penyemangat dirinya pun juga tidak ada.

"Ada istilah semangat korporasi (korps) kelompok yang dikembangkan oleh instansi tertentu dari dulu. Semangat korps itu kalau diganggu akan mengamuk secara beramai-ramai," ucap Koordinator Kepala Sekolah Afirmasi Kota Bandung itu.

Lebih lanjut, menurut dia, semangat korps berkembang di kalangan remaja karena masih emosional, serta kurang ada pengawasan dari orangtua.

"Ada faktor mengenai radikal remaja, yaitu sosial kontrol atau pengawasan sosial. Saat ini perkembangan terakhir sosial kontrol tersebut tidak berfungsi lagi, seperti contoh kalau ada orang lain yang melakukan kesalahan seseorang tidak berani menegur," ungkap Kepala Sekolah SMA Kristen Rehoboth Bandung itu.

Bahkan mereka yang melakukan kesalahan itu tidak merasa malu walau dilihat banyak orang, karena kontrol sosial tersebut tidak berfungsi. "Sehingga orang lain yang melihat tindak kriminal itu tidak berani menegur karena kondisi sisi psikologis kehidupannya, seperti faktor hukum yang dibawa-bawa sehingga dia takut proses hukum berlanjut hingga selesai," tuturnya.

Zul melanjutkan, pengawasan pun tidak ditanggapi oleh lembaga yang berwenang. "Kalau berlaku waktunya lama, itu faktornya, sehingga sosial kontrol tidak berjalan bahkan tidak ada di kehidupan masyarakat," pungkasnya.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini