nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Emosi Labil, Amarah Remaja pun Tak Terkontrol

Rachmad Faisal Harahap, Jurnalis · Rabu 20 November 2013 10:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2013 11 19 560 899633 D5Hi1PrByb.jpg Ilustrasi tawuran. (Foto: Arif Julianto/Okezone)

JAKARTA - Tingkat emosional di kalangan remaja khususnya para pelajar bisa dikatakan masih labil. Hal itu bisa menyebabkan ketidakseimbangan emosi, sehingga amarah tiap anak keluar dengan mudahnya.

Oleh karena itu, terjadi lah sikap-sikap kriminal yang melekat di dalam individu seorang remaja maupun berkelompok, seperti tawuran dan hal-hal menyimpang lainnya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Zulkarnaen Sinaga mengatakan, mereka hanya butuh aktualisasi diri. Secara psikologis, para remaja bisa dikatakan bukan anak-anak dan bukan dewasa, karena sedang dalam masa transisi.

"Sehingga mereka pasti tidak menunjukkan identitasnya sebagai pelajar ketika berkelompok dengan teman sebayanya dan mereka tidak takut oleh siapa pun, seperti kasus yang belum lama ini terjadi, yaitu menyiram air keras," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (20/11/2013).

Koordinator Kepala Sekolah Afirmasi Kota Bandung itu berharap, ke depannya ingin para remaja tampil sebagai generasi yang unggul, mampu menciptakan situasi yang aman dan damai dengan tidak adanya radikalisasi remaja serta belajar dengan baik.

"Saya berharap, masyarakat melakukan pengawasan terhadap mereka, kalau di lembaga pendidikan seperti di sekolah, guru-guru bersikap yang baik kepada muridnya. Padahal, dari dulu pendidikan karakter sudah ada dan lebih ditingkatkan lagi," ucap Kepala Sekolah SMA Kristen Rehoboth Bandung itu.

Zul menambahkan, tidak ada cara-cara lagi selain memberikan pengawasan terhadap para remaja agar tidak melakukan tindak kriminal, baik dari rumah, sekolah maupun lingkungan sekitar.

"Tidak mungkin cara pencegahan seperti ini melalui hukum untuk anak-anak yang melanggar hukum, walaupun para remaja ini melakukan hal-hal dalam kategori dewasa. Selain itu, dengan cara memberikan pendidikan berkarakter yang bersungguh-sungguh dari masyarakat dan guru, serta agama," tutup dia.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini