nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelajar Butuh Tempat Mengekspresikan Diri

Rachmad Faisal Harahap, Jurnalis · Kamis 21 November 2013 10:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2013 11 20 560 900224 UkNW2R4CUh.jpg Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)

JAKARTA - Para remaja yang bersikap negatif, khususnya pelajar, akan berlaku demikian karena tidak diawasi pihak sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Oleh karena itu, masing-masing pihak harus memberikan pengawasan dan mengontrol kegiatan-kegiatan mereka serta mengarahkannya ke yang lebih positif. Seperti memberikan tempat untuk menyalurkan bakat dan minatnya, sehingga kekosongan waktu terisi dengan kegiatan yang positif, bukan untuk main-main apalagi melakukan tindak kriminal.

Guru SMA Negeri 19 Makassar Ratna S.Pd mengatakan, mengenai tindakan remaja yang cenderung radikal karena kurangnya pengawasan pihak sekolah, karena melibatkan banyak siswa. Selain dari pihak sekolah, remaja di Indonesia dengan segala masalahnya, juga dipengaruhi kepemimpinan dari kehidupan sehari-hari. Sehingga mereka sudah kehilangan kepercayaan dari orang dewasa di sekelilingnya.

"Remaja sebenarnya butuh figur yang bagus, sedangkan di lingkungan masyarakat sudah memperlihatkan gejala-gejala yang tidak bagus. Misalnya, ada seorang guru atau pendidik yang melakukan hal tidak terpuji, kemudian polisi yang bermasalah, sehingga para remaja akan kena dampaknya pada hal-hal tersebut," ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (21/11/2013).

Ratna menambahkan, faktor dari keluarga adalah pembentuk karakter nomor satu. Dengan kondisi keluarga, khususnya orangtua, yang sibuk dengan pekerjaannya, membuat anak menjadi kurang perhatian. Otomatis, sang anak lebih gampang dipengaruhi lingkungannya.

"Selain itu, media massa juga memberikan berita-berita yang negatif seperti tindak kriminal dan korupsi. Kalau di Jepang, berita-berita yang negatif tidak diekspos kepada masyarakat, tetapi beda halnya dengan di Indonesia, berita buruk malah di ekspos, itu secara psikologis. Andaikan media tidak terlalu mengekspos, kalau bisa paling tidak 50 persen berita positif dan 50 persen negatif, jadi ada keseimbangan," ucap guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris itu.

Hal senada juga disampaikan Guru SMA Negeri 1 Wonotunggal Batang, Jawa Tengah Wisnu Ardlian Sugiyarto. Dia mengatakan, perlu ada efek jera untuk menangani remaja secara khusus.

"Perlu ada semacam ekstrakurikuler, agar mereka bisa mengekspresikan pada jalurnya masing-masing, sehingga bisa menyeimbangkan emosinya," kata guru yang mengajar mata pelajaran Fisika itu.

Sementara dalam lingkungan masyarakat, pengawasannya harus lebih besar karena tidak ada pengawasan dari orangtua. Tidak perhatian kepada sang anak, seperti keluarga yang broken home, membuat mereka terjerumus ke pergaulan yang bebas.

"Saya berharap, remaja bisa menyalurkan bakatnya agar bisa mengekspresikannya di sekolah. Orangtua yang peduli dengan anaknya, dan remaja tersebut melakukan hal-hal yang sewajarnya," katanya.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini