nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelajar Nggak Brutal, Anak Jangan Ditinggal

Rachmad Faisal Harahap, Jurnalis · Jum'at 22 November 2013 06:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2013 11 21 560 900816 T6nXFjBXQH.jpg Ilustrasi. (Foto: Runi Sari/Okezone)

JAKARTA - Supaya remaja tidak brutal, sejak kecil anak jangan ditinggal-tinggal oleh orangtuanya dengan alasan bekerja. Sehingga anak tersebut kurang pengawasan dan perhatian dari orangtuanya sendiri.

Dosen Ilmu Pendidikan Lingkungan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) Stien Johanna Matakupan, M.Pd berpendapat, dalam keluarga sebenarnya pada usia lima tahun pertama masa pertumbuhan anak-anak sedang dalam masa golden periode. Dalam hal ini orangtua yang berperan besar, misalnya orangtua lebih banyak bekerja dan menyerahkan pendampingan anak kepada pembantu, maka anak akan cenderung bersifat brutal.

"Lalu di lingkungan masyarakat juga bagaimana supaya anak-anak itu bisa berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat agar tidak berkecenderungan dengan hal-hal yang menyimpang," ujarnya saat berbincang dengan Okezone, Kamis (21/11/2013).

Oleh karena itu, pendidikan karakter bagus dibicarakan di kelas (sekolah), namun akan lebih bagus bila dia terjun di masyarakat dan dibenturkan dengan kondisi yang ada. Misalnya ada sekolah-sekolah yang bagus sudah mulai memberikan program anak yang bekerjasama dengan masyarakat atau anak tinggal dengan masyarakat, dia akan mengalami benturan-benturan budaya. Di lain pihak dia akan belajar pada nilai-nilai yang berbeda.

"Kemudian pendidikan karakter juga lebih banyak kepada diskusi dengan orang dari berbagai golongan. Jadi dia paham, harus menghormati dari segala perbedaan, Indonesia beruntung sebenarnya dengan berbagai macam budaya untuk pendidikan karakter, cuma apakah ada kesempatan atau tidak untuk anak-anak untuk mengeksplorasi, terus juga kegiatan di lapangan misalnya pendidikan karakter untuk tekun, berarti dia harus berkegiatan seperti mengolah sampah atau kegiatan yang tangannya jadi kotor, harus menceburkan ke lumpur, harus mengalami yang tidak enak, itu juga sangat kurang dididik, kita hanya banyak fokus kepada pengetahuan seperti menyelesaikan soal, menjawab ulangan, nilai bagus," ucapnya.

Lebih lanjut, Guru harus memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan hal seperti itu, walaupun muridnya marah dan menangis tidak apa-apa, namun itu proses belajar yang tidak harus melulu senang, tapi juga ada saatnya di mana dia harus merasakan hal-hal yang dia tidak suka.

"Ada juga orangtua yang tidak mengizinkan anaknya melakukan kegiatan yang sulit atau kesusahan, padahal itu adalah pendidikan karakter. Jadi, pendidikan karakter itu membutuhkan juga guru dan orangtua yang harus sedikit tega, contoh lain misalnya memukul juga tidak apa-apa tapi anak harus tahu kenapa dia dipukul, selama ini kan tidak, hanya ada timbul rasa benci anak terhadap orangtua, menjadi pelarian dan akhirnya pergi dari rumah," ungkapnya.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini