Share

ITS Otak-atik Tempe di Kampung Tempe

Margaret Puspitarini, Okezone · Selasa 03 Desember 2013 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2013 12 02 373 906101 xBfmwKkB4Q.jpg Ilustrasi. (Foto: okezone)

JAKARTA - Sebagai makanan asli Indonesia, pemanfaatan tempe masih belum maksimal. Hal ini berimbas pada penghasilan pengusaha tempe yang juga minim. Menyadari kondisi tersebut, Departemen Sosial Masyarakat Himpunan Mahasiswa Planologi (HMPL) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengadakan diskusi dan lomba memasak.

Berlokasi di Kampung Tempe, Desa Sukomanungggal RT 02 RW 09, kemarin, sebanyak 24 ibu rumah tangga yang mayoritas pengrajin tempe berlomba-lomba menyajikan inovasi produk kuliner menarik berbahan dasar tempe.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Ketua Departemen Sosial Masyarakat HMPL mengatakan, acara ini merupakan realisasi dari Program Hibah Bina Desa (PHBD) Eka Putri Anugrahingwidi.

"Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah dari tempe yang diproduksi masyarakat setempat melalui inovasi produk tempe. Selama ini masyarakat hanya menjual tempe mentah tanpa diolah, sehingga pendapatan yang diperoleh pun sedikit," urai Eka, seperti disitat dari ITS Online, Selasa (3/12/2013).

Eka menambahkan, dalam lomba memasak itu, terdapat 24 peserta yang dibagi ke dalam 12 kelompok. Setiap kelompok diberi waktu 60 menit untuk memproduksi menu unggulan mereka.

Kebersihan, kerapian, kekompakan, cita rasa, dan ketepatan waktu menjadi poin utama penilaian dewan juri. "Bahan dasar tempe kami yang menyediakan, sedangkan peralatan dan bahan lainnya disediakan sendiri oleh peserta," tutur mahasiswa Angkatan 2011 itu.

Salah seorang peserta, yakni Nur Hasanah mengaku senang dapat mengikuti lomba tersebut. Selain turut memeriahkan kampung, juga menambah pengalaman dalam membuat jenis-jenis masakan dari tempe. "Ternyata tempe bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan yang menarik," kata Nur.

Selain berkompetisi dalam membuat inovasi olahan tempe, masyarakat juga diajak berdiskusi tentang kiat-kiat pemasaran produk usaha tempe dan prosedur pengajuan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Diskusi itu menghadirkan Kabid Industri, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Surabaya Surtauli Sinurat dan Denny Sulistyowati S Farm dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Dalam pemaparannya, Denny mengatakan tahapan dalam permohonan izin PIRT. "Mulai dari pengajuan, penyelenggaraan penyuluhan pangan, pemeriksaan sarana produksi pangan, setelah itu baru mendapatkan sertifikat PIRT," terang Denny.

Sementara itu, Surtauli menampik kekhawatiran masyarakat mengenai mahalnya biaya untuk mengurus permohonan izin PIRT. "Masyarakat menganggap izin itu mahal dan sulit, namun tidak demikian, semuanya gratis," jelas Surtauli.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini