Share

Dosen ITB Ubah Limbah Jadi Bahan Kosmetik & Vaksin

Margaret Puspitarini, Okezone · Selasa 03 Desember 2013 21:13 WIB
https: img.okezone.com content 2013 12 03 372 906697 Cgjroqo8Pd.jpg Foto : ITB

JAKARTA - Limbah menjadi salah satu persoalan keberlanjutan lingkungan di Indonesia. Salah satu jenis limbah yang seringkali dibuang tanpa adanya pengolahan lebih lanjut adalah limbah biodiesel.

Tidak tinggal diam, salah seorang dosen dari Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) Elvi Restiawaty merasa terpanggil untuk mengatasi persoalan tersebut. Ide tersebut dituangkan dalam proposal penelitian berjudul "Pemanfaatan Limbah Biodiesel untuk Produksi Gliserol-3-Fosfat (G3F) dengan Menggunakan Enzim Termostabil dari Bakteri Asal Perairan Kawasan Hydrothermal Vent Kepulauan Kawio, Sulawesi Utara."

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Melalui penelitian tersebut, ibu dua anak itu menyulap limbah biodisel menjadi hal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Caranya dengan menggunakan bakteri yang berasal dari perairan laut dalam kawasan hydrothermal vent Kepulauan Kawio, Sulawesi Utara sebagai agen biologis.

Setelah melalui rangkaian proses, limbah yang telah dicampurkan bakteri tersebut mampu menghasilkan Gliserol-3-Fosfat. Zat tersebut merupakan suatu bahan kimia yang memiliki nilai tambah dan dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat, seperti vaksin dan kosmetik.

Menurut Elvi, dalam produksi biodiesel sebanyak 683 juta liter akan dihasilkan gliserol sebanyak 68 juta liter atau sekira 10 persen dari produk utama. "Hal ini sangat potensial untuk menjadikan G3F ini produk yang komersial. Karena bahan baku produksi G3F berasal dari limbah yang tidak bernilai jika tidak diproses lebih lanjut, selain itu perolehan limbahnya juga tergolong banyak," tutur Elvi, seperti dikutip dari laman ITB, Selasa (3/12/2013).

Dia menyebut, optimalisasi produksi G3F bisa terus dilakukan. Salah satunya dengan mengisolasi enzim-enzim termostabil yang dapat aktif hingga hampir 100 derajat celcius.

Elvi mengungkap, terdapat sejumlah hambatan dalam melaksanakan penelitian tersebut. "Saat ini hambatannya adalah peralatan di laboratorium yang masih kurang. Misal dalam penelitian ini dibutuhkan inkubator yang suhunya mencapai 100 derajat celcius yang belum tersedia di laboratorium. Sementara itu, temperatur sangat dapat mempengaruhi kerja enzim," paparnya.

Inovasi tersebut mendapat apresiasi dalam ajang bergengsi sekelas L'Oréal Indonesia National Fellowship for Women in Science 2012. Selain itu, doktor dari Osaka University, Jepang, di bidang bioteknologi tersebut juga telah menerima berbagai penghargaan, seperti Outstanding Award of Young Scientist and Student for Poster Presentation pada Asian Congress on Biotechnology 2011.

Sejak 1999, Elvi aktif melakukan riset mengenai gula palem, biogas, dan pengolahan limbah pabrik tapioka. Selain itu, Elvi juga aktif dalam publikasi jurnal skala internasional, terutama dalam bidang bioteknologi.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini