Share

Tidak Siap, Sarjana RI Bakal Panik Hadapi AEC 2015

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Selasa 03 Desember 2013 11:14 WIB
https: img.okezone.com content 2013 12 03 373 906303 iaSt95VsBK.jpg Ilustrasi: Reuters.

JAKARTA - Sekira dua tahun lagi, Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN akan menghadapi ASEAN Economic Community (AEC). Pada AEC, bursa tenaga kerja juga akan memasuki era pasar bebas. Artinya, tenaga kerja Indonesia bisa mencari pekerjaan di negara ASEAN; dan sebaliknya, tenaga kerja dari ASEAN bebas bekerja di Indonesia.

Sayangnya, gaung AEC masih sayup terdengar. Dalam istilah Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Edy Suandi Hamid, jangankan bersiap, tahu tentang AEC saja tidak.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

"Kita selalu terlambat merespons kerja sama internasional seperti AEC dan bekerja menjelang deadline, bahkan saat injury time. Padahal, tidak mudah menghadapi AEC," kata Edy, ketika dihubungi Okezone, Selasa (3/12/2013). 

AEC akan aktif diterapkan pada 1 Januari 2015. Artinya, Indonesia hanya memiliki waktu persiapan kurang dari dua tahun lagi. Bagi Edy, ini adalah masa yang sangat singkat.

Sementara itu, ujar Edy, negara tetangga seperti Malaysia sudah bersiap sejak dulu. Malaysia mengirimkan mahasiswanya untuk kuliah di Indonesia, khususnya di bidang ilmu kedokteran.

"Tidak hanya kuliah, mereka juga mempelajari bahasa Indonesia dan Pancasila karena mereka tahu pengetahuan tentang hal itu dibutuhkan untuk dapat bekerja di Indonesia," imbuhnya. 

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) ini menilai, lulusan perguruan tinggi Indonesia masih mampu bersaing dengan para sarjana dari Kamboja dan Vietnam. Tetapi, sarjana Tanah Air mungkin akan mengalami sedikit kesulitan berkompetisi dengan lulusan perguruan tinggi Singapura dan Malaysia. Bahkan, peringkat perguruan tinggi Indonesia juga masih kalah dari kedua negara tersebut.

Karena itulah, Edy menilai pentingnya akselerasi dalam persiapan menghadapi AEC 2015. Selain percepatan, diperlukan juga sinergi di antara semua elemen masyarakat, termasuk Kamar Dagang Indonesia (Kadin), perguruan tinggi dan asosiasi profesi.

Edy menuturkan, akselerasi tersebut di antaranya dilakukan dengan menyiapkan kompetensi mahasiswa sesuai kompetensi pasar tenaga kerja AEC 2015.

"Kampus, harus betul-betul memperkuat penjaminan mutu. Bahkan, lulusannya harus mendapatkan sertifikasi sesuai kompetensi profesi," imbuhnya. 

Selain itu, adalah tugas dosen untuk mengubah mindset mahasiswa agar tidak hanya berpikir memenuhi kompetensi di Indonesia, tetapi juga ASEAN. Sebab, prinsip pasar bebas bukan hanya berlaku untuk komoditas, tetapi pasar tenaga kerja juga akan lebih bebas.

"Jika tidak siap, maka kita akan gagap dan panik menghadapi AEC 2015 dan menjadi tamu di negeri sendiri," kata Edy.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini