Share

ITS Gagal Bawa Pulang Piala Bergilir KJI 2013

Margaret Puspitarini, Okezone · Selasa 03 Desember 2013 21:09 WIB
https: img.okezone.com content 2013 12 03 373 906513 1pcHW1N1Hq.jpg Tim mahasiswa ITS dalam Kontes Jembatan Indonesia (KJI) IX. (Foto: dok. ITS)

JAKARTA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya harus berbesar hati tidak membawa pulang piala bergilir Reka Cipta Titian Indonesia. Namun, dalam Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) IX itu, kontingen ITS berhasil menyabet tiga kemenangan. Dua di antaranya dari kategori jembatan kayu dan sisanya dari kategori jembatan bentang panjang atau busur.

Ketua Dewan Juri KJI 2013 Heru Purnomo mengungkap, sistem penilaian KJI merupakan akumulasi nilai dari beberapa aspek. Salah satunya evaluasi proposal dan presentasi yang memiliki porsi pembobotan masing-masing 10 persen.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

"Sedangkan 80 persen sisanya untuk perakitan sekaligus uji pembebanan terhadap jembatan. Jadi penilaian tidak hanya dari dua hari terakhir saja,'' ujar Heru, seperti dikutip dari ITS Online, Selasa (3/12/2013).

Untuk kategori jembatan bentang panjang, O-Arch karya tim O-Project mampu meraih posisi juara kedua atau setara dengan penghargaan emas. Pada kategori ini, O-Arch merelakan gelar jembatan terkokoh akibat lendutan jembatan 0,01 milimeter lebih panjang dibanding Politeknik Negeri Bandung.

Selain itu, pada kategori jembatan kayu, Panderman buatan tim Citra S-54 mampu memenangkan dua kategori. Dengan hasil pengukuran lendutan seperempat bentang sekitar 1,28 milimeter dan setengah bentang sebesar 1,56 milimeter. Nilai tersebut menunjukkan, lendutan Panderman memiliki selisih yang sangat besar dengan batas ukuran lendutan maksimal yang ditentukan.

Dari hasil uji beban jembatan kayu, ITS dinobatkan sebagai jembatan kayu terkokoh yang setara dengan penghargaan perunggu. Tidak hanya itu, Panderman juga berhasil mengantongi posisi sebagai juara kedua KJI IX kategori jembatan kayu atau setara dengan penghargaan emas.

Namun, nasib baik kurang memihak Ksatria Baja ITS yang turun dalam kategori jembatan baja. Sebab, kata Heru, besar lendutan dari jembatan baja yang melebihi lendutan maksimal.

''Jadi otomatis tidak dapat mengikuti kategori lain seperti keindahan, K3 terlengkap, terealistis. Jika lendutan tidak memenuhi batas izin, itu artinya jembatan tidak diikutsertakan untuk penilaian selanjutnya,'' ungkapnya.

Dia menambahkan, profil hollow yang digunakan oleh tim ITS harus dipasang secara hati-hati. ''Tidak mudah juga memasangkannya. Tim ITS melakukan kesalahan prosedur dalam menghubungkan segmennya. Tetapi keberanian menggunakan profil tersebut perlu diapresiasi,'' papar Heru.

Ketua KJI ITS 2013 Erwin Hidayat mengaku, masukan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi tim ITS. Dia berharap, dalam ajang serupa di tahun depan, ITS dapat membawa pulang piala bergilir tersebut.

''Kami ucapkan selamat kepada Universitas Brawijaya (UB) Malang yang berhasil mempertahankan piala Reka Cipta Titan Indonesia. Kami berharap semoga tahun depan ITS bisa juara umum,'' urai Erwin.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini