Share

Tikar Bidai Diklaim Malaysia, Pemerintah Dinilai Tak Cerdas

Dina Prihatini, Okezone · Jum'at 27 Desember 2013 15:08 WIB
https: img.okezone.com content 2013 12 27 340 918209 ugEYv7zPZl.jpg Ilustrasi

PONTIANAK - Klaim Malaysia atas tikar bidai, dinilai sebagai imbas dari ketidakcerdasan pemerintah pusat, provinsi, maupun daerah dalam mengantisipasi kejadian tersebut. Tikar bidai merupakan asli buatan tangan warga Dusung Sinargalih, Desa/Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

"Pemerintah sangat tidak cerdas. Baru bereaksi setelah masalah timbul," ujar pengamat politik dari Universitas Tanjungpura, Zulkarnain, kepada Okezone, Jumat (27/12/2013).

Menurutnya, klaim juga terjadi karena pemerintah tidak peduli dan tidak mengapresiasi karya masyarakat, khususnya di daerah yang letaknya begitu dekat dengan negara tetangga. "Pemerintah harus bertindak mengurus kemudahan pengrajin agar memperoleh hak paten untuk tikar bidai tersebut," harapnya.

Sudah menjadi rahasia umum, masyarakat terutama pengrajin, yang berada jauh dari perkotaan tidak mengetahui hak paten, kegunaan, manfaat, apalagi cara mengurusnya. "Peran pemerintahlah yang diperlukan," cetusnya.

Harusnya, sambungnya, karya-karya masyarakat daerah menjadi kebanggaan karena keasliannya. Apalagi klaim kebudayaan maupun tapal batas, sudah sering terjadi antara-Malaysia dan Indonesia. Sebelumnya negara tetangga itu mengklaim Reog Ponorogo dari Jawa Timur dan Gordang Sembilan, alat musik suku Mandailing, Sumatera Utara.

Sementara itu, Konsultan UMKM Bank Indonesia perwakilan Kalimantan Barat, Hatta Siswa Mayahya, mengatakan, dalam pengembangan dan pembinaan UMKM, Bank Indonesia memiliki program khusus salah satunya melalui Inkubator bisnis yang bekerja sama dengan Lembaga Swabina Mitra dan pendampingan langsung kepada pelaku UKM dan koperasi.

"Salah satu desa binaan BI di Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang ini kami mencoba melakukan pembinaan secara aktif kepada masyarakat perajin tikar bidai. Kami mencoba membantu pemasaran, maupun pengenalan produk kepada pasar luas melalui berbagai pameran," terangnya.

Hatta mengaku, selama ini masyarakat pengrajin bidai menjual hasil karya mereka ke Malaysia karena permintaan pasar di sana sangat tinggi. "Untuk bentuk pembinaan yang kami lakukan adalah dengan memberikan penguatan kepada pengrajin bidai secara rutin agar mereka terus berinovasi dan mengembangkan kerajinan mereka," tutupnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini