nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PDIP: Poligami Menyakitkan Perempuan!

Mustholih, Jurnalis · Kamis 02 Januari 2014 06:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 01 02 339 920404 xd4GLlwMu4.jpg Screenshot Twitter

JAKARTA -Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Eva Kusuma Sundari, mengomentari soal isu miring poligami Presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang dikicaukan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Fahri Hamzah.

Fahri berkicau di jejaring sosial Twitter soal kegagalan Bung Karno dalam berpoligami dan membanggakan kesuksesan poligami presiden PKS, Anis Matta. Menurut Eva, poligami bukan sesuatu yang harus dipropagandakan ke publik.

"Poligami bukan sesuatu yang harus dipropagandakan. Karena itu menyakitkan para perempuan yang berharap cinta adalah ekslusif," kata Eva dalam keterangannya kepada Okezone, Rabu (2/1/2014) malam.

Menanggapi soal poligami Bung Karno, Eva menyatakan sebagai manusia biasa, tokoh proklamator itu memang punya kelemahan terhadap perempuan-perempuan cantik.

"Bung Karno manusia biasa yang lemah terhadap perempuan-perempuan cantik. Bung Karno tidak pernah membanggakan poligami karena tahu itu menyakiti keluarganya. Bung Karno sensitif terhadap perasaan perempuan dan memilih untuk menjadikannya sebagai isu privat. Mungkin, Bung Karno malu dan berpikir, ketidaksetiaan kok dibanggakan, dipamerkan," papar dia.

Namun, kata Eva, jangan dilupakan bahwa Bung Karno punya kontribusi besar pada bangsa Indonesia, menjadi inspirasi bagi kemerdekaan Asia-Pasifik dan penggagas Gerakan Non-Blok. "Sehingga poligami Bung Karno saya pandang sebagai sisi manusiawi," ungkap Sundari menambahkan.

Terlepas dari isu poligami, anggota Komisi Hukum DPR ini mengingatkan Fahri bahwa Bung Karno punya gagasan jenius yang pro terhadap perempuan.

"Gagasan Bung Karno terhadap kesetaraan perempuan crystal clear, pro pada kesetaraan perempuan. Dalam buku Sarinah, dia pendukung feminisme dan bahkan mengajukan gagasan feminist-nasionalist dengan mengoreksi feminisme liberal maupun sosialis. Perempuan dan laki dibaratkan sebagai dua sayap, setara dan bermartabat sama," bebernya.

Seperti diketahui, lewat akun Twitter @Fahrihamzah, Fahri Hamzah membanggakan koleganya separtai, Anis Matta yang berhasil menikahi perempuan 28 tahun asal Hongaria, Szilvia Fabula, menjadi istri kedua. Fahri menyatakan Anis Matta dalam hal berpoligami lebih sukses dibanding Bung Karno.

Fahri menyebut poligami Bung Karno merupakan bentuk poligami yang gagal sedangkan poligami Anis Matta adalah poligami yang sukses. "Pada kasus Anis Matta menurut saya adalah di antara contoh sukses yang nyata. Bukan seperti fiksi dalam ayat-ayat cinta," kata Fahri berkicau di Twitter.

Menurut Fahri, Bung Karno tidak sanggup mengumpulkan dua perempuan secara damai, malah berakhir tragis. Bung Karno, kata Fahri, menikahi Siti Utari yang kala itu berusia 15 tahun demi menghormati gurunya, HOS Tjokroaminoto.

"Ketika Utari dibawa ke bandung si Bung jatuh cinta pada ibu kos, Inggit Garnasih. Utari dipulangkan. Demikian pula ketika dibuang ke Bengkulu seperti saya cerita. bung jatuh cinta pada Fatma. Inggit menyingkir sedih," tulis Fahri seraya menambahkan bahwa yang paling tragis adalah Fatmawati melahirkan anak terakhirnya, Guruh, Bung Karno pergi menikahi Hartini.

Fahri mengklaim poligami tentu lebih mulia dari berganti pasangan. Namun, bagi Sundari, poligami dalam Islam harus dilihat dari konteks masyarakat Arab ketika agama itu diturunkan pertama kali. "Poligami memang sunnah Nabi. Tapi menurut saya, pesannya adalah pembatasan, bukan perintah (dalam konteks Arab saat itu)," tutup Eva.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini