nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Isu Poligami Tak Menguntungkan dalam Pemilu 2014

Kemas Irawan Nurrachman, Jurnalis · Selasa 21 Januari 2014 16:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 01 21 339 929549 lMgzs1xw26.jpg Ilustrasi poligami

JAKARTA - Pakar psikologi politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan, masyarakat Indonesia pada umumnya tidak menginginkan dipimpin atau memiliki pemimpin yang poligami.

Oleh karena itu, kata Hamdi, langkah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang terlihat sangat permisif terhadap poligami dibandingkan partai-partai lainnya secara politik tidak akan menguntungkan bagi partai itu dalam Pemilu 2014.

"Secara umum masyarakat Indonesia lebih bersikap negatif ketimbang positif terhadap isu poligami. Jadi, hati-hati dengan isu poligami. Kalau PKS permisif dan petingginya malah mempromosikan poligami akan berdampak buruk," kata Hamdi di Jakarta, Selasa (21/1/2014).

Hamdi mencontohkan, pengusaha restoran Wong Solo bangkrut karena pamer ke publik bahwa dirinya adalah seorang poligami. Hal serupa, lanjut Hamdi, bakal dialami PKS jika tetap permisif terhadap isu poligami, termasuk memilih pemimpin yang jelas-jelas sudah diketahui masyarakat berpoligami untuk diusung dalam Pemilu 2014.

"Sekarang PKS mencoba-coba mempromosikan poligami, dan tokoh-tokoh partai itu mengumbar poligaminya. Jelas tidak akan menguntungkan atau sangat merugikan bagi posisi politik PKS dalam Pemilu 2014 karena poligami adalah isu yang sangat tidak populer di masyarakat," tuturnya.

PKS saat ini dalam posisi tidak diuntungkan karena stigma korupsi dan poligami yang begitu melekat di publik. Stigma sebagai partai korup dan petinggi partainya yang poligami, lanjut Hamdi, telah mengubur mimpi PKS dalam menambah suara dalam Pemilu 2014.

"Isu poligami di kalangan internal PKS mungkin bisa diterima, tapi di luar itu sebagian besar masyarakat pemilih di Indonesia tidak menginginkan pemimpin yang poligami," kata Hamdi.

Oleh karena itu, kata Hamdi, PKS harus berhati-hati dalam isu poligami karena sebagian besar masyarakat Indonesia tidak ingin dipimpin oleh orang yang berpoligami. PKS, lanjutnya, harus mempertimbangkan dalam memilih kandidat-kandidat yang bakal diusung dalam Pemilu 2014.

"Kecuali dia memiliki prestasi seperti Soekarno masyarakat akan tidak mempersoalkannya (poligami). Tapi kalau sudah prestasi minim, petingginya terjerat korupsi ditambah lagi hanya jago kawin maka akan ditinggal oleh masyarakat," kata Hamdi.

Dihubungi terpisah, pengamat politik UGM Mada Sukmajati mengatakan, poligami akan menjadi isu yang dinilai negatif oleh sebagian pemilih dalam Pemilu 2014. Dia mengatakan, isu poligami akan mempengaruhi pemilih di perkotaan dan kalangan berpendidikan.

Menurut Mada, kaum perempuan adalah kalangan yang akan paling bereaksi keras dan negatif terhadap isu poligami dalam wacana pencapresan mendatang. Petinggi PKS, lanjut Mada, harus mempertimbangkan isu-isu negatif terhadap partainya, seperti korupsi dan poligami.

Sebab, kata Mada, tren penurunan suara PKS yang sudah dimulai sejak Pemilu 1999 bakal terus terjadi hingga Pemilu 2014. Ia mengatakan, salah satu penyebab turunnya suara PKS salah satunya akibat kasus korupsi.

Saat ini, Mada mengatakan, PKS sedang menghadapi banyak masalah sehingga sibuk membenahi dan konsolidasi internal setelah petingginya terjerat kasus korupsi. "PKS tidak sempat memelihara dan memperluas dukungan pemilih menjelang Pemilu 2014," kata Mada.

Menurutnya, PKS sulit melakukan ekspansi suara pemilih yang baru sejak Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq terjerat korupsi. Kasus-kasus yang melibatkan Luthfi dan petinggi PKS, lanjut Mada, telah menjungkirbalikkan pandangan masyarakat terhadap partai itu.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini