nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Aktivis Perempuan Kecam Politisi yang Suka Poligami

Kemas Irawan Nurrachman, Jurnalis · Rabu 22 Januari 2014 16:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 01 22 339 930146 VqNki9HziL.jpg Ilustrasi poligami

JAKARTA - Aktivis perempuan Gefarina Djohan menilai, politisi atau pemimpin politik yang berpoligami dan kemudian memamerkan hal itu ke publik sama dengan merendahkan harkat dan martabat perempuan.

Menurutnya, politisi yang berpoligami tidak memberikan teladan yang baik kepada masyarakat sehingga tidak layak dipilih dalam Pemilu 2014.

"Pemimpin yang berpoligami dan mendeklarasikan bahwa dirinya berpoligami sangat tidak baik. Dia tidak patut menjadi teladan, yang pasti dia tukang bohong sebab kepribadiannya berubah-ubah," kata Gefarina di Jakarta, Rabu (21/1/2014).

Sejumlah politisi Indonesia diketahui melakukan poligami. Salah satunya adalah Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta yang memiliki dua istri. Hal itu diketahui saat Anis mengenalkan istri keduanya itu ke publik bulan Desember 2013. Istri kedua Anis, seorang perempuan muda yang berasal dari Hongaria, sebuah negara di daratan Eropa.

Gefarina mengatakan, Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa harkat dan martabat perempuan itu luar biasa, namun langkah pemimpin atau politisi di Indonesia saat ini melakukan poligami justru merendahkan harkat dan martabat perempuan.

Oleh karena itu, kata Gefarina, masyarakat harus sadar bahwa langkah politisi atau pemimpin partai saat ini melakukan poligami justru tidak berupaya menjaga harkat dan martabat perempuan.

Gefarina mengatakan, doktrin yang dibangun saat ini adalah poligami wajib hukumnya. Sehingga, lanjutnya, masyarakat umum saat ini berpandangan bahwa poligami itu syariat. Jadi, kata Gefarina, bila masyarakat menentang poligami maka menentang syariat.

"Itu salah. Islam membolehkan, tapi bukan suatu hal yang wajib. Kalau pun diperbolehkan, tapi dalam kondisi apa? Jadi kita harus memberikan kesadaran baru kepada masyarakat bahwa poligami tidak bersifat syariat. Politisi yang berpoligami kemudian dipamerkan sedemikian rupa ke publik itu sama saja merendahkan perempuan," katanya.

Senada disampaikan oleh Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) yang juga aktivis perempuan, Nisma Abdullah. Dia menyebut politisi yang berpoligami tidak sadar telah menyakiti hati perempuan.

Nisma Abdullah mengatakan, puluhan ribu tenaga kerja wanita asal Indonesia yang tersebar di banyak negara tidak akan memilih politisi atau bahkan calon presiden yang berpoligami dalam Pemilu 2014.

"Dalam pemilu nanti, kami akan menyerukan kepada kawan-kawan buruh migran untuk tidak memilih orang-orang yang sudah mengkhianati rumah tangga dan istrinya," kata Nisma.

Saat ini, Nisma memimpin 27 ribu orang yang menjadi anggota SBMI, yang tersebar di 13 provinsi dan 140 kabupaten atau kota di Indonesia.

Tidak hanya di Tanah Air, lanjut Misma, anggota SBMI juga tersebar di sejumlah negara yang selama ini menjadi negara tujuan pengiriman buruh migran Indonesia, seperti Hong Kong, Qatar, Kuwait dan Jeddah. Ia melanjutkan, buruh migran Indonesia di negara-negara itu juga akan diserukan untuk tidak memilih politisi yang berpoligami dalam Pemilu 2014.

"75 persen anggota SBMI adalah kaum perempuan dari 27 ribu seluruh anggota kami yang tersebar di 13 provinsi dan 140 kabupaten atau kota, termasuk di luar negeri seperti Hong Kong, Qatar, Kuwait dan Jeddah," kata Nisma, menjelaskan.

"Mereka adalah orang-orang yang berkhianat terhadap rumah tangganya sendiri. Itu namanya pengkhianatan dalam rumah tangga. Jadi tidak perlu dipilih. Golput lebih baik daripada harus memilih orang yang tidak tepat, salah satunya politisi yang berpoligami," kata Nisma.

Nisma mengatakan, langkah SBMI menyerukan kepada anggotanya termasuk kepada seluruh buruh migran Indonesia untuk tidak memilih politisi yang berpoligami dalam Pemilu 2014 memiliki alasan kuat. Menurutnya, kesetiaan politisi yang sudah berkhianat dengan istri dan rumah tangganya sangat diragukan.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini