Ini Alasan Partai Nasional Aceh Boikot Deklarasi Pemilu Damai

Salman Mardira, Okezone · Jum'at 07 Februari 2014 14:59 WIB
https: img.okezone.com content 2014 02 07 340 937507 BUkljoXloe.jpg Pemimpin & pengurus partai politik di Aceh berikrar pemilu damai (Salman/Okezone)

BANDA ACEH - Partai Nasional Aceh (PNA) mengungkapkan alasannya memboikot hadir dalam deklarasi ikrar pemilu damai di Mapolda Aceh. Partai politik lokal itu enggan hadir karena acara yang dihadiri 14 partai politik tersebut, dinilai hanya seremonial belaka.

"Ikrar pemilu damai yang diselenggarakan, tidak menjawab subtansi permasalahan kekerasan politik yang menimpa kader-kader PNA yang terus berlangsung di lapangan, bahkan pada saat ini," kata Ketua Umum PNA, Irwansyah, di Banda Aceh, Jumat (7/2/2014).

Dia menilai, polisi belum tegas dalam mengusut hingga tuntas terhadap fakta–fakta kekerasan politik di Aceh, padahal sudah terungkap dengan jelas dan diketahui publik secara umum.

"Kepolisian tidak berusaha mengungkap dalang dan pemberi perintah terhadap kekerasan-kekerasan politik yang terjadi sejak Pilkada 2011 lalu hingga hari ini," sebut bekas Juru Bicara Militer GAM wilayah Aceh Besar itu.

Pihaknya menilai adanya ketidakadilan dalam penegakan hukum selama ini, di mana kasus-kasus yang minimpa partai dan kadernya tidak ditangani serius, sementara kasus yang menimpa partai lain dengan sangat cepat diproses.

Meski demikian, Irwansyah mengaku sangat mendukung dan memberikan apresiasi atas inisiasi Kapolda Aceh Irjen Herman Effendi yang menggelar deklarasi Ikrar pemilu damai di Aceh, hari ini.

Namun, selain faktor di atas, partainya tidak bisa hadir karena masih dalam suasana duka dan melayat ke rumah M. Juwaini, Ketua PNA Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara yang meninggal dunia diduga akibat dianiaya, pada 6 Februari kemarin.

Sementara Kapolda Aceh, Irjen Herman Effendi membantah tuduhan polisi melakukan pembiaran terhadap kekerasan yang menimpa kader dan partai politik, khususnya PNA. "Saya rasa kami (polisi) selama ini sudah proporsional, setiap laporan (dari partai politik) sudah kita tindaklanjuti," ujarnya.

Terkait tudingan PNA bahwa polisi selama ini hanya mengungkap kasus kekerasan terkait politik sebatas pelaku, tapi tak menindak dalangnya, Herman juga menampiknya. "Kita sudah melakukan proses itu," tukasnya.

Ditanya soal kasus tewasnya Juwaini, Kapolda mengaku, pihaknya belum menangkan pelakunya tapi sudah memerintahkan jajarannya untuk memburu pelaku. "Kita belum tangkap orangnya, tapi kita kenal orangnya," sebut dia.

Dia menolak menyebut identitas maupun inisial pelaku yang diakuinya satu orang. "Itu hanya seorang oknum yang melakukan tindak kriminal," katanya.

Ditanya soal dugaan motif penganiayaan itu, Herman mengaku belum tahu karena pelakunya belum tertangkap. Namun ia mengatakan kalau kasus itu merupakan kriminal murni.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini