Internasionalisasi, PTS Jangan Kehilangan Jati Diri

Margaret Puspitarini, Okezone · Sabtu 22 Februari 2014 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2014 02 21 373 944693 v1wpRf4rCk.jpg Internasionalisasi sebaiknya tidak menghilangkan identitas PTS. (Foto: dok. UII)

JAKARTA - Derasnya arus globalisasi tidak hanya menyentuh aspek perdagangan dan ekonomi, namun telah memasuki ranah pendidikan. Keadaan tersebut tentu harus mendapat respons cepat dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia.

Sebab, seperti tertuang dalam General Agreement on Trade in Services (GATS), pendidikan telah dimasukkan sebagai komoditas jasa yang dapat diintegrasikan dalam arus global. Dengan konsekuensi, persaingan dalam penyediaan jasa pendidikan ke depan akan semakin ketat karena tak hanya melibatkan aktor lokal namun juga global.

Untuk itu, Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menggelar Rapat Pengurus Pusat Pleno (RPPP) Ke-5 dengan tema "Internasionalisasi PTS di Indonesia." Pada kegiatan yang diikuti oleh para pengurus APTISI dari seluruh Indonesia itu juga hadir sejumlah duta besar dari berbagai negara dan perwakilan kampus-kampus asing, serta perwakilan pemerintah dalam hal ini Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti.

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Edy Suandi Hamid mengungkap, pemilihan tema kali ini memiliki relevansi yang tinggi terhadap kondisi yang sedang dihadapi bangsa.

"Isu ini terus bergulir hingga mulai dipandang sebagai isu penting seiring dengan menguatnya arus globalisasi yang telah menyentuh ranah pendidikan di Tanah Air," tutur Edy, seperti disitat dari situs UII, Sabtu (22/2/2014).

Aspek pendidikan, kata Edy, kini telah menjadi salah satu komoditas jasa seperti diatur dalam kesepakatan internasional. Sehingga internasionalisasi pendidikan telah menjadi sebuah keniscayaan yang harus dihadapi kalangan perguruan tinggi, termasuk PTS. Oleh karena itu, PTS dituntut untuk segera berbenah, memacu diri, mengembangkan kualitas pendidikan, dan menciptakan iklim akademis yang dapat menunjang proses internasionalisasi tersebut.

"Salah satu upaya memperkuat kesiapan PTS menuju internasionalisasi, APTISI terus menggalakkan berbagai jaringan kerjasama riset dan leadership training dengan PT asing, seperti dengan Univerity of Technology Sydney, Deakin University, dan University of Tasmania," papar Ketua Umum APTISI itu.

Pendapat serupa juga disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti. Dia menegaskan, persoalan ke depan akan membawa peluang dan tantangan bagi perguruan tinggi di Indonesia akibat globalisasi.

"Maka, bagi PTS dalam manajemen pengelolaannya harus kreatif dan inovatif. PTS dalam menghadapi internasionalisasi pendidikan jangan hanya business as usual, tetapi harus mengedepankan pengelolaan yang matang dan penuh akuntabilitas," kata Wiendu.

Wiendu menambahkan, kewenangan yang fleksibel dan keunikan yang dimiliki oleh PTS bisa menjadi modal dalam melakukan internasionalisasi pendidikan. Walaupun, lanjutnya, bukan berarti dimensi kultural, tradisi, dan filosofi bangsa menjadi terlupakan.

"Dengan jumlahnya yang mayoritas, PTS berpotensi menjadi garda terdepan dan pilar utama pembangunan nasional. Selain berupaya menduniakan institusi pendidikannya, PTS hendaknya juga harus tetap membumi dengan tidak meninggalkan tradisi asli kebangsaan kita," tegasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini