nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjalanan & Keinginan Oegroseno dalam Sebuah Buku

Prabowo, Jurnalis · Minggu 23 Februari 2014 22:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2014 02 23 154 945331 cjy1ZEqCFh.jpg

YOGYAKARTA - Komisaris Jendral (Pol) Oegroseno, nama yang tak asing di lingkungan kepolisian. Pria kelahiran 17 Februari 1956 itu, saat ini menjabat sebagai Wakapolri sejak 2 Agustus 2013 lalu.

 

Perjalanan hidup dan keinginan Jendral Bintang Tiga itu tertulis dalam buku berjudul Oegroseno, Menjadi Polisi Untuk Mengabdi terbitan Solusi Publishing, Jakarta 2013.

 

Editor buku sebanyak 390 halaman itu Ahmad Bahar. Buku itu sebagai cermin perjalanan hidup Oegro -sapaan akrab Oegroseno-, alumnus Akpol 1978 yang pernah mengenyam jabatan penting di tubuh Polri, diantaranya Kapolda Sulteng, Kadiv Propam Polri, dan terakhir Kapolda Sumut sebelum menjadi orang nomor 2 di Institusi Polri.

 

Banyak buah pikiran yang ada di benak sang Jendral. Satu yang selalu terucap 'Mengabdi adalah melayani, bukan dilayani'. Pelayanan ini secara nyata diwujudkan dengan memberi layanan masyarakat secara mudah, cepat, simpatik, ramah dan sopan serta tanpa membebani yang tidak semestinya.

 

Suami Suharyatmi Ningsih itu cukup baik dalam soal leadership, kedekatan dengan masyarakat karena kesederhanaan, dan bisa jadi teladan dengan ide-ide mecerlang untuk perbaikan kepolisian di tanah air. Dia dikenal polisi yang bersih dari praktek korupsi dalam kehidupannya.

 

"Kisah Oegroseno banyak membawa inspirasi, perjalanan hidup dan karirnya tidak sekadar menjalankan rutinitas. Bisa beri warna dan meninggalkan jejak yang berujung prestasi, itulah yang ingin di angkat lewat buku," kata Ahmad Bahar kepada Okezone, Minggu (23/2/2014).

 

Menjadi polisi seutuhnya, mengabdikan totalitas kehidupan untuk bangsa dan negara merupakan cita-cita Oegroseno. Polisi harus mampu memberikan yang terbaik bagi institusi, tidak sekadar menggugurkan kewajiban atau tugas semata.

 

"Perjalanan karir beliau dikenal punya prinsip, integritas, objektif dan tegas serta berani. Sosok reformis, pekerja keras, lurus tanpa banyak bicara melekat pada diri Oegroseno," imbuh Ahmad.

 

Setiap penugasan, satu hal yang selalu ditonjolkan yaitu berusaha membuat gebrakan dan selalu berupaya membuat polisi semakin dekat dengan masyarakat. Sekecil apapun gagasan dipraktekan, meski sederhana dia tak merasa rendah diri untuk melaksanakan pilihan yang dianggapnya benar.

 

Ada sederet prestasi yang ditorehkan Oegroseno saat menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah. Meski hanya setahun menjabat (2005-2006), dibawah kepemimpinan Oegroseno konflik Poso mampu diredam. Oegro mampu membangun komunikasi pihak-pihak yang terlibat konflik, mencari solusi, dan menyelesaikan konflik itu tanpa ada permusuhan.

 

Begitu juga saat menjabat sebagai Kapolda Sumatra Utara, 2010-2011 lalu. Pasca kejadian perampokan komplotan bersenjata di Bank CIMB Medan, dia memimpin proses penyergapan komplotan perampok bersenjata di perkebunan kelapa sawit kawasan Dolok Masihol, Kabupaten Serdang Bedagai.

 

Guna membahas buku itu, Forum Komunikasi Mahasiswa dan Santri Yogyakarta (FKMSY) akan menggelar diskusi publik dan launching buku tersebut di The Rich Sahid Hotel Yogyakarta pada Selasa (25/2/2013) besok. "Besok akan dihadiri langsung oleh Pak Oegroseno," kata Kasimun, koordinator FKMSY.

 

Kasimun menyampaikan akan ada acara stand up komedi dan launching buku dalam bentuk diskusi publik secara terbuka 'Dialog Publik Ciptakan Pemilu Aman dan Demokratis'.

 

"Yogyakarta banyak kelompok intelektual, mahasiswa, dan santri.  Jelang pemilu banyak harapan agar penyelenggaraan bisa berlangsung aman tentunya," tutupnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini