nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masih Misteri, dari Hujunggaluh Menjelma Menjadi Surabaya

Nurul Arifin, Jurnalis · Kamis 27 Februari 2014 14:55 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 02 27 522 947461 kCatm2ksWS.jpg

SURABAYA - Nama Kota Surabaya yang dikaitkan dengan mitos pertarungan antara Ikan Suro (Hiu) dan Baya (Buaya) hingga saat ini masih melekat di wilayah yang berjuluk Kota Pahlawan. Bahkan, Suro dan Boyo menjadi ikon Surabaya.

 

Setidaknya ada dua titik yang memampang ikon tersebut. Pertama di Jalan Raya Darmo, tepatnya di depan Kebun Binatang Surabaya dan Selanjutnya di Sekitar Jalan raya Gubeng di dekat monumen kapal selam (Monkasel).

 

Meski belum ditemukan literatur sejarah yang pasti, Kota Surabaya ini semula bernama Hujunggaluh atau yang biasa disebut Ujunggaluh. Tapi sampai hari ini belum ditemukan sejak kapan nama Hujunggaluh ini menjelma menjadi Surabaya. Setidaknya, nama Hujunggaluh ini diambil dari pelabuhan semasa kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Kertarajasa Jaya Wardhana atau Raden Wijaya.

 

Hujunggaluh adalah nama pelabuhan semasa Majapahit sekitar tahun 1293 Masehi. Saat itu, Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Tar Tar di pelabuhan  tersebut. Namun semasa pemerintahan Raja Hayam Wuruk sepertinya nama Hujunggaluh hilang. Kemudian berganti nama menjadi Curabhaya.

 

Kata Curabhaya ini ditemukan pada sebuah prasasti Trawulan I dengan angka  tahun 1280 Saka atau 1358 Masehi.  Yousri Raja Agam, penulis buku Sejarah Kota Surabaya menyebut, Raja Hayam Wuruk sering singgah di Curabhaya. Bahkan dalam buku Negara kertagama karya Empu Prapanca disebutkan Prabu Hayam wuruk sering  berkunjung ke wilayah Jenggala yang saat ini disebut Sidoarjo.

 

"Dalam kitab itu disebut, Yen Ring Janggala Lok Sabha n rpati ring Curabhaya  terus ke Buwun. Artinya, Jika di Jenggala di laut, raja tinggal di Surabaya  terus ke Buwun yang saat ini Bawean," jelasnya.

 

Rupanya, dalam beberapa catatan sejarah perjalanan Prabu Hayam Wuruk, tidak pernah disebutkan nama Hujunggaluh. Justru yang sering muncul adalah nama Curabhaya atau Surabaya. Hingga saat ini, nama Hujunggaluh yang kemudian berubah menjadi Surabaya masih misteri. Sedikit mundur ke belakang, ada yang memperkirakan bahwa Kota Pelabuhan di Muara Sungai Brantas bernama Hujunggaluh.

 

Sejak tahun 905, wilayah tersebut sudah menjadi kota penting.  Fakta ini terkuak dari Prasasti Balitung di Randusari, Prambanan bahwa Hujunggaluh adalah tempat tinggal para pejabat. Kemudian, sekitar tahun 929 setelah Mpu Sindok merelokasi pusat kerajaannya yakni kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur yang diperkirakan berada di Hujunggaluh.

 

Konon berada di Galuh dekat Sungai Brantas. Namun, teori ini dimentahkan dengan penemuan Prasasti Anjukladang tahun 937 yang menyebut bahwa kerajaan Mpu Sindok dipindahkan di Watugaluh. Nama Watugaluh sendiri saat ini masih ada menjadi sebuah desa yang berada di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Fakta ini diperkuat dengan Prasasti Turyan pada tahun 929 yang menyebut kerajaan itu berada di Daerah Tamwlang.

 

Konon nama Tamwlang ini masyarakat menyebut Tembelang yang saat ini menjadi kecamatan di Kabupaten Jombang. Di tempat tersebut juga terdapat sebuah desa yang bernama Megaluh.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini