Freddy Numberi: Quo Vadis Papua

Tri Kurniawan, Okezone · Sabtu 01 Maret 2014 19:13 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 01 158 948634 qSqPqd0vZ6.jpg

FREDDY NUMBERI tak kenal lelah memperjuangkan kesejahteraan bagi rakyat Papua. Sepeninggal dari jabatan di pemerintahan, pria kelahiran Serui, Papua, 15 Oktober 1947, itu semakin kritis bicara soal masa depan Papua, baik melalui media massa, diskusi atau forum lainnya. Kali ini, mantan Menteri Perhubungan itu menulis buku berjudul Quo Vadis Papua.

 

Melalui buku setebal 633 halaman ini, dia mengimbau kepada pemerintah pusat untuk menyelesaikan masalah di Bumi Cenderawasih tidak lagi dengan kekerasan, tapi melalui komunikasi yang baik. "Agar negeri kita tetap berjalan bergandengan tangan. Ini ke depan harus bersama-sama," kata Freddy saat peluncuran bukunya, baru-baru ini.

 

Menurutnya, untuk menyelesaikan masalah diperlukan kebijakan yang pro kepada rakyat Papua. Dia mencontohkan, soal pendidikan. Warga asal Papua yang ingin masuk tentara tentu akan kalah bersaing dengan orang asal Pulau Jawa. Dia menilia, ini hanya contoh kecil bahwa di dunia pendidikan saja belum ada kesetaraan.

 

"Sehingga diharapkan pada buku ini diimbau bagi seluruh putra Bangsa Indonesia bergandengan tangan melihat Papua secara bersama-sama agar Papua lebih baik," tukasnya..

 

Freddy yakin, tak satupun yang menginginkan suatu daerah lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tapi, lanjutnya, semuanya butuh komitmen yang kuat dari pemerintah untuk menyelesaikan ragam masalah di Papua. "Intinya kita ingin bersama,” tegasnya.

 

Dia mengatakan, pembangunan di Papua gagal. Pemerintah pun, mengakui kegagalan itu. Undang-Undang Otonomi Khusus yang dilahirkan untuk bisa mengubah taraf hidup rakyat Papua juga tidak bisa berbuat banyak. Karena, kata Freddy, selama ini pelaksanaan UU Otsus tidak benar dan tidak konsisten. Dia mengatakan, implementasi UU Otsus juga harus dibarengi dengan komitmen.

 

"Misal, bagaimana peraturan daerah-peraturan daerah dibuat. Itu tugas menteri dalam negeri. Dan menteri dalam negeri harus terus melakukan evaluasi serta pengawasan. Tidak bisa hanya diserahkan ke daerah karena tidak berjalan baik. Ini butuh komunikasi pusat dan daerah," paparnya.

 

Freddy harus menyisihkan waktunya selama dua tahun untuk menulis buku Quo Vadis Papua. Dia melakukan penelitian hingga ke Amerika dan Belanda. Yang menarik, Presiden Barack Obama salah satu yang memberikan testimoni soal buku ini, selain beberapa tokoh di Tanah Air.

 

Banyak fakta soal Papua yang didapat Freddy saat melakukan penelitian di dua negera itu. Seperti surat Kenedy yang isinya menekan Belanda supaya mau menyerahkan Papua, karena jika tidak seluruh Asia akan jadi komunis

Penelitian di Belanda, Freddy mendapat dokumen soal bagaimana Inggris dan Belanda membagi-bagi wilayah pada 1824, akhirnya Papua diserahkan pada Belanda dan lainnya diserahkan kepada Inggris.

 

"Sehingga buku-buku saya mendapat data otentik dari sejarah masa lalu Papau dalam perjalanan waktu. Generasi sekarang banyak yang tidak tahu, karena hanya melihat papua sejak Papera pada 1969. Buku ini mengungkap fakta yang belum terungkap tentang Papua," pungkas tokoh masyarakat Papua itu.

 

Biodata singkat Freddy Numberi:

 

Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi menempuh jenjang pendidikan SD Lagere School-B, SMP, dan SMA Paspal di Jayapura. Pada 1971, dia menempuh pendidikan di AKABRI Laut. Pengalamannya di bidang militer sudah malang melintang. Di antaranya menjadi Komandan KRI Sembilang, KRI Pulau Rengat, dan Lantamal V/Maluku-Irian Jaya.

 

Freddy juga sempat dipercaya menjadi Gubernur Provinsi Irian Jaya, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Dubes LBBP RI untuk Italia, Malta dan Albania, Menteri Kelautan dan Perikanan dan terakhir Menteri Perhubungan. Dia juga tercatat sebagai Perwira Tinggi yang pertama meraih bintang di lingkungan TNI dari Rakyat Papua dengan pangkat Laksamana Pertama dan Menteri pertama dari Papua dalam bingkai NKRI.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini