Share

Kisah-Kisah Aneh di Kalibata

Nina Suartika, Okezone · Jum'at 07 Maret 2014 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 06 500 951069 MbBQ1nxoTh.jpg

SIAPA sangka jalan yang selalu ramai di daerah Kalibata ternyata dihuni oleh banyak makhluk gaib. Jalan Kalibata Raya yang lebih dikenal dengan gang Hj. Mahmud ternyata menyimpan sejumlah kisah misteri.

 

Ibrahim (35) sedang duduk bersama dengan kawan-kawannya di pangkalan ojek yang tepat berada di depan Universitas Trilogi (STEKPI). Sambil menunggu penumpang yang ingin menggunakan jasanya, dia pun mengobrol.

Follow Berita Okezone di Google News

 

“Lagi sepi penumpang mbak, maklum sudah siang begini. Biasanya baru akan ramai kalau sore hari karena jalanan di sini suka macet,” kata bapak beranak tiga ini.

 

Sekilas tidak ada yang istimewa di tempat pangkalan ojek tersebut. Tempatnya berada di samping saluran air yang menjadi tempat pembuangan limbah bagi perumahan komplek DPR RI yang berada tidak jauh dari pangkalan tersebut.

 

Bau amis dan anyir pun terkadang sering tercium dari saluran tersebut. Maklum saja, karena tidak hanya limbah rumah tangga saja yang dibuang di saluran tersebut. Terkadang, banyak juga sampah-sampah yang menumpuk di saluran.

 

Sambil terus menunggu dan mengobrol, Ibrahim menceritakan pengalamannya ketika dia menjadi tukang ojek di situ. Dia sudah menjadi tukang ojek sejak usianya 17 tahun, saat itu, ketika lulus sekolah menengah atas (SMA), dia memutuskan untuk menjalani profesi sebagai tukang ojek. Pasalnya, dia belum mendapatkan pekerjaan lain. Padahal sudah beberapa kali dia mencoba melamar di sejumlah perusahaan.

 

“Karena tidak ada panggilan dari mana-mana, saya menjadi tukang ojek saja mbak. Mumpung di rumah ada motor dan daripada menganggur lebih baik saya bekerja kan. Lumayan hasilnya bisa buat bantu-bantu orang tua,” katanya.

 

Ibrahim mengatakan, dulunya, pangkalan ojek tersebut adalah sebuah lapangan tanah merah. Banyak penduduk di gang Hj. Mahmud yang memanfaatkan lapangan tersebut sebagai tempat bermain bola.

 

“Dulu di sini sebelum jadi pangkalan ojek itu lapangan. Orang – orang yang lama tinggal di sini itu bilangnya kalau mau ke STEKPI atau ke gang Haji Mahmud pasti bilangnya lapangan. Soalnya di sini sebelum dibangun gedung – gedung itu adalah lapangan merah yang suka dipakai sama anak-anak di sini jadi tempat main bola,“ kata Ibrahim.

 

Menurut Ibrahim, kondisi jalanan pun saat itu tidak seramai sekarang. Jika sudah pukul 6 sore, penduduk sudah tidak ada yang berani keluar. Pasalnya, banyak kejadian – kejadian aneh di pangkalan ojek tersebut ketika malam sudah tiba. Tidak hanya itu, jalanan raya yang mengarah ke Taman Makam Pahlawan pun pada saat itu hanya satu jalur, tidak seperti sekarang yang dibuat dua jalur oleh pemerintah daerah DKI Jakarta.

 

“Kalau dulu orang – orang sini ngga ada yang berani keluar kalau sudah jam 6 sore soalnya kadang – kadang suka ada saja hal yang aneh. Kadang – kadang ada yang suka melihat kuntilanak terbang di pinggiran jalan, tapi kadang – kadang ada juga yang suka mendengar suara – suara rintihan orang atau suara tertawa seperti suara kuntilanak,“ tambah Ibrahim.

 

Dia sendiri mengaku sering mendapat ganggungan dari makhluk gaib di sekitar saluran air tersebut. Dia bercerita pernah suatu hari, saat dia sedang nongkrong di pangkalan ojek dikejutkan oleh suara tertawa kuntilanak. Saat itu dia melihat ada sosok wanita yang terbang dari pohon yang berada tepat di samping saluran menuju ke TMP.

 

“Kejadiannya itu waktu saya lagi duduk – duduk di sini (pangkalan ojek). Saya mendengar seperti ada suara kuntilanak tertawa, lalu saya melihat ke atas ternyata dia (kunti) sedang terbang dari pohon yang ada di situ ke TMP,“ katanya sambil menunjuk arah pohon yang berada di saluran dekat pangkalan.

 

Menurut Ibrahim, sebagai warga asli di Kalibata tersebut, dia sudah sering melihat hal – hal tersebut. Karena di tempat pangkalan ojek itu memang terbilang angker. Banyak orang – orang atau lebih tepatnya pekerja kasar (buruh) yang mati karena disiksa oleh majikannya dibuang di situ.

 

“Dulu itu di sini memang tempat pembuangan mayat. Banyak buruh – buruh yang matinya tidak wajar di kubur di sini,’’ katanya.

 

Di pangkalan ojek tersebut memang banyak warga yang menyatakan bahwa tempat itu adalah tempat pembuangan. Pernah juga ada cerita mengenai buruh yang dikubur hidup – hidup di lapangan yang kini sudah menjadi jalanan raya tersebut.

 

“Iya dulu pernah ada buruh yang dikubur hidup – hidup di sini, itu cerita benar. Jadi katanya buruh itu melawan sama majikannya jadinya dibuang ke sini. Terus dikubur sampai mati di sini,” katanya. 

 

Tidak hanya itu, yang menjadikan tempat tersebut angker sampai saat ini adalah keberadaan pohon karet yang kini sudah menjadi kampus swasta. Menurut Ibrahim, dulunya di kampus tersebut banyak sekali setan – setan yang berkeliaran.

 

“Dulu itu, kampus itu rawa, terus diubah jadi pohon karet. Nah, saat jadi tempat pohon karet itu banyak banget warga yang ketakutan karena sering melihat setan. Mereka sih seringnya melihat kuntilanak. Jadinya mereka jarang ada yang berani keluar malam – malam,” katanya.

 

Ibrahim mengatakan, sosok penampakan kuntilanak itu pun sampai sekarang terkadang masih suka berkeliaran. Namun, dia hanya akan berkeliaran ketika jalanan sudah sangat sepi.

 

“Kalau sekarang sih sudah jarang tetapi kadang – kadang sih suka munculin wujudnya, itu juga kalau jalanan sudah sangat sepi, biasanya sekitar jam 3 an. Karena kan saya kadang – kadang juga suka tidur di sini. Tetapi karena sudah biasa jadinya sudah tidak takut lagi, sudah temenan lah,“ katanya sambil tertawa.

 

Selain itu, Ibrahim juga terkadang sering diganggu dengan suara – suara aneh yang muncul dari bawah pangkalan. Karena pangkalan tersebut tidak diaspal dan masih tanah.

 

“Kadang – kadang iya suka dengar suara – suara orang menangis, kadang orang ketawa, terus ada juga yang suka minta tolong. Soalnya ini di bawah pangkalan bukannya aspal tetapi masih tanah, mungkin karena itu kadang – kadang suaranya suka kedengaran jelas sekali,“ kata Ibrahim.

 

                                                                        *****

Usman (68) juga sering mengalami kejadian serupa dengan Ibrahim. Warga asli Kalibata itu sudah menjadikan hal tersebut adalah hal yang lumrah. Karena dia sendiri sempat melihat kejadian – kejadian yang menyeramkan di masa mudanya, saat pangkalan itu masih menjadi tempat pembuangan mayat bagi para buruh.

 

“Kalau kejadian melihat setan mah sudah biasa mba di sini. Soalnya kan dulu di sini itu jadi tempat pembuangan. Saya pernah melihat ada mayat yang tiba – tiba dibuang saja dari dalam mobil terus ditinggalin begitu saja. Saat dilihat itu mukanya sudah lebam – lebam seperti habis dipukul, atau kadang – kadang ada juga mayat yang badannya sudah seperti disobek – sobek karena di badannya itu banyak jahitan. Itu suka dibuang ke sini mbak,” kata Usman.

 

Menurut Usman, kejadian itu masih sering terjadi hingga pada akhir tahun 1990 an. Karena setelah itu, lapangan pun berangsur – angsur diubah menjadi jalanan. Namun terkadang, suka ada saja penduduk yang masih sering mendengar atau melihat setan di tempat itu.

 

“Biasanya sih yang di sini itu suka melihatnya kuntilanak. Tetapi kalau mbak bisa melihat, itu di pohon yang ada di samping saluran air itu ada sosok lelaki tinggi besar, badannya hitam terus matanya menyala. Itu juga kadang – kadang yang suka mengganggu tukang ojek di sini,’ kata Usman sambil tertawa.

 

Usman sendiri mengaku sering melihat kuntilanak yang terbang dari atas pohon di saluran menuju ke arah TMP. Sambil tertawa – tawa khasnya kunti, biasanya dia hanya memperlihatkan sosoknya yang menggunakan pakaian putih dengan rambut panjang yang terurai.

 

 

‘Kadang – kadang juga di sini sering dengar suara – suara, apaan saja deh. Ada suara orang merintih kayak kesakitan gitu, ada suara orang menangis, sampai pernah juga saya mendengar seperti orang yang meminta tolong. Tetapi pas saya cariin itu ngga ada wujudnya cuman suara saja,’ kata Usman.

 

Tidak hanya itu, bagi Usman sendiri, dia pun terkadang suka diganggu oleh hantu yang ada di STEKPI. Karena dulunya tempat itu juga merupakan rawa yang dihuni oleh banyak setan.

 

“Kalau saya mah seringnya suka digangguin sama ketawanya kuntilanak. Tetapi pernah juga saya melihat pocong di depan kampus. Tapi itu kalau sudah malam soalnya kalau siang sampai sore kan di sini masih ramai sama kendaraan,” kata Usman.

 

                                                                        *****

 

Usman melanjutkan, kejadian beberapa tahun silam tersebut masih berdampak hingga saat ini. Karena dia percaya bahwa mayat – mayat yang dikubur tidak wajar di bekas lapangan tersebut sering meminta tumbal. Hal ini sering terlihat karena hampir setiap bulan ada saja kecelakaan yang sering terjadi di jalanan yang menghubungan ke Pasar Minggu dan arah sebaliknya menuju Cililitan tersebut.

 

“Kalau kita yang di sini percaya orang – orang yang dulunya pernah dikubur di sini selalu minta tumbal. Karena setiap bulan selalu saja ada satu atau dua kendaraan yang kecelakaan sampai meninggal. Kalau kita yakin mereka ingin mencari teman di sana,” katanya lantas tertawa.

 

Dia menceritakan, pernah suatu hari tidak ada angin atau hujan sebuah kendaraan bermotor ditabrak oleh mobil boks yang sedang berkendara dengan kecepatan tinggi. Sontak si pengendara terpental hingga beberapa meter dari tempat kejadian.

 

“Kalau orang – orang sih yakinnya pasti dia (pengendara motor) mati. Soalnya mentalnya jauh banget dari tempat kejadian, ada kali sampai 200 meter,” katanya dengan logat Betawi.

 

Setelah kecelakaan, warga di sekitar pun menaburi jalanan tersebut dengan kembang tujuh rupa atau kemenyan. Karena warga percaya bahwa kemenyan itu merupakan symbol agar penunggu setempat tidak mengganggu warga.

 

“Iya biasanya kalau habis ada yang kecelakaan ada saja yang suka nabur kemenyan di jalanan. Kalau kita yang di sini sih tidak tahu persis, tetapi katanya itu buat ngusir roh – roh yang matinya ngga wajar di sini, biar dia ngga mengganggu,” kata Usman.

 

                                                                                    *****

Kini, lanjut Usman, meski pun keberadaan jalan di saluran pangkalan ojek STEKPI masih terkenal akan keangkerannya, sudah jarang ada penampakan di sekitar pangkalan ojek tersebut. Karena keadaan jalan saat ini sudah semakin ramai.

 

“Kalau kita yang di sini sih hanya berharap agar orang – orang yang dulunya pernah dikuburin di sini bisa tenang di sana. Meski pun kadang – kadang kami suka juga digangguin tetapi kami menganggap bahwa kami berbeda dan alam kami itu adalah yang tertinggi. Jadi kami sudah tidak pernah takut lagi dengan yang begitu – begituan. Lagian juga di sini kan sekarang sudah ramai, tidak sepi seperti dulu, jadinya setan – setannya juga pasti sudah takut untuk muncul,” kata Usman. 

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini