nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejarah Jembatan Lima

Dede Suryana, Jurnalis · Selasa 11 Maret 2014 16:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 03 11 504 953347 FgHHjz9LbO.jpg Jembatan Lima (Foto: Istimewa)

KAMPUNG Jembatan Lima (kini Kelurahan) berada di wilayah Kecamatan Tambora, Kotamadya Jakarta Barat. Asal usul Jembatan Lima merujuk pada lima jembatan yang ada di daerah ini.

Kelimanya ialah jembatan di Jalan Petak Serani (Jalan Hasyim Ashari), jembatan di Jalan Petuakan, jembatan Kedaung, jembatan Kampung Masjid (Jalan Sawah Lio 2), dan jembatan Kampung Sawah Gang Guru Mansur (Sawah Lio 1).

Jembatan-jembatan tersebut kini tinggal nama, bersamaan dengan pengurukan sungai Cibubur yang mengaliri kampung ini. Dinamakan Cibubur karena kalinya konon seperti bubur, kotor, dan mengandung banyak lumpur.

Di Jembatan Lima juga terdapat kampung tua, jalan atau gang yang namanya sudah hilang, seperti Kampung Sawah Lio, Patuakan, Kerendang, Petak Serani, Gudang Bandung, Teratai, Tambora, Gang Laksa, dan Gang Daging. Sawah Lio berasal dari kata sawah yang dijadikan tempat pembakaran batu bata (lio). Kampung ini tepat di dekat jembatan. Sawah Lio wilayahnya meliputi Sawah Gang Guru Mansur (selanjutnya bernama Jalan Sawah Lio 1) dan Kampung Sawah Masjid (selanjutnya bernama Jalam Sawah Lio 2).

Disebut Kampung Sawah Gang Guru Mansur karena di tempat ini tinggal seorang tokoh dan guru agama Islam benama Kiai Haji Mansur dan Kampung Sawah Masjid karena terdapat Masjid Al-Mansur.

Di Kampung Sawah terdapat sebuah gang yakni Gang Laksa, karena di sana tinggal beberapa orang kaya yang mempunyai uang berlaksa-laksa (berjuta-juta), seperti H Djakaria pemilik empang-empang yang ada di Pasar Ikan dan H Tosim pemilik rumah sewaan. Sementara Kampung Kerendang lantaran setiap musim hujan selalu tergenang air (banjir).

Nama Kampung Patuakan karena di sana tempat mangkal penjual minuman tuak. Nama Petak Serani karena dulu ada petak-petak yang dihuni oleh orang Serani (Nasrani). Kampung Teratai lantaran ada rawa-rawa yang dipenuhi oleh bunga teratai dan Tambora karena tiap pagi di asrama tentara terdengar suara tambur.

Kampung Jembatan Lima pada masa pemerintahan Belanda secara administratif termasuk Kawedanan Penjaringan, Kelurahan Angke Duri dan yang menjadi kepala kampungnya pada waktu itu adalah Bek Akhir, Bek Latip, dan Bek Marzuki. Pada masa pendudukan Jepang, Kampung Jembatan Lima masuk wilayah Penjaringan Son (kecamatan) dan Kelurahan Angke Duri. Kepala kampungnya Bek Ramadan.

Pada masa kemerdekaan wilayah Jembatan Lima dibagi atas tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Tambora, Kelurahan Jembatan Lima, dan Kelurahan Pekojan. Adapun yang menjabat sebagai kepala kampung ialah Bek Salamun.

Diolah dari berbagai sumber

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini