Share

Hari Kartini dan Refleksi Kesetaraan Gender Masa Kini

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Senin 21 April 2014 13:09 WIB
https: img.okezone.com content 2014 04 21 373 973226 qWerI0QnRj.jpg Suasana aksi damai Amuba dalam peringatan Hari Kartini. (Foto: dok. Amuba)

JAKARTA - Ratusan tahun lalu, Raden Ajeng Kartini berjuang menegakkan hak-hak kaum perempuan Indonesia. Ketika itu, perempuan Indonesia dianggap sebagai masyarakat kelas dua yang tidak memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki.

Perjuangan Kartini berbuah kesetaraan gender. Hingga kini, hari lahirnya, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini. Setiap tahun, berbagai kelompok masyarakat mengisi Hari Kartini dengan aksi-aksi pengingat tentang perjuangan Kartini. 

Anak muda Purwokerto, Jawa Tengah, misalnya, menggelar aksi damai

dengan menyelenggarakan karnaval bersama warga sekitar Purwoketo, kemarin. Penggagas aksi tergabung dalam Aliansi Muslimah Banyumas (Amuba) yang terdiri dari beberapa organisasi yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Soedirman dan Thoriq bin Ziyad, Lembaga Dakwah Kampus UKKI, Lembaga Dakwah Fakultas Se-Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Jarmusda Purwokerto serta Yayasan Profetika Muda (YPMI).

Menurut koordinator aksi, Amalia Anjani, Hari Kartini adalah momentum istimewa bagi kaum perempuan Indonesia. Sebab, Hari Kartini adalah pengingat perjuangan Kartini dalam menyuarakan ide untuk membebaskan kaumnya dari belenggu tradisi dan konstruksi sosial yang sangat melecehkan serta merendahkan martabat wanita pada masanya.

"Di sini kami menyatakan sikap untuk meneladani keberanian Kartini dalam menyuarakan hak-hak seorang wanita, sehingga diskriminasi, ketidakadilan dan perlakuan yang tidak layak kepada kaum wanita tidak terjadi lagi," kata Amalia, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya kepada Okezone, Senin (21/4/2014). 

Secara khusus, kata Amalia, Amuba membawa misi tersendiri dalam aksi damainya tersebut. Mereka menyuarakan hak wanita sesuai dengan koridor Islam, yakni hak seorang muslimah dalam berhijab. Menurutnya, saat ini masih banyak profesi yang melarang seorang muslimah untuk menutup auratnya dalam bekerja. Begitu juga sekolah yang melarang anak didiknya berhijab.

"Sehingga lahirlah pertanyaan, adakah dengan ini Indonesia sudah bisa disebut negara demokrasi berkeadilan? Yang setiap orang bebas memeluk agamanya?” imbuhnya.

Diawali dengan long march dari Buntos menuju alun-alun Purwokero, aksi yang dimulai pukul 06.00 WIB itu ditutuo dengan penampilan perkusi dan tari saman. Anak-anak asuh dari Yayasan Rumah Cendikia juga menyumbangkan penampilan apik dalam pembacaan puisi Kartini. 

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini