Share

Jejak Aceh Bermula dari Kampung 'Seribu Nisan'

Salman Mardira, Okezone · Rabu 30 April 2014 12:08 WIB
https: img.okezone.com content 2014 04 30 345 978075 YgicZMxjnU.jpg Kompleks Makam Putroe Ijo (Foto: Salman/Okezone)

BANDA ACEH - Lelaki itu menatap nisan-nisan berukiran unik yang tertata rapi di Kompleks Makam Putroe Ijo di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Aceh. Sebagian nisan itu terlihat tak lagi utuh dan tertumpuk begitu saja.

“Itu hancur saat tsunami, ada sebagian yang direkatkan kembali pakai semen,” kata Zaini (45), pengurus makam kuno kepada Okezone.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Menurut dia, Makam Putroe Ijo alias Putri Hijau sering dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun luar negeri, seperti Malaysia, Turki, Belanda dan negara-negara Timur Tengah. Awal pekan lalu, ratusan siswa bertandang ke makam-makam kuno di Gampong Pande dalam rangka wisata sejarah napak tilas Hari Jadi Kota Banda Aceh ke-809 tahun.

“Sehari kadang dua sampai tujuh orang. Tapi hari ini sepi. Rata-rata yang berkunjung ke sini tertarik karena sejarah makam ini dan Gampong Pande. Bukan hanya sekadar melihat-lihat, tapi juga ada juga yang meneliti,” ujar Zaini.

Gampong Pande adalah salah satu desa tertua di Aceh. Sejarah mencatat, cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam bermula dari sini yakni pada abad XIII Masehi.

Kota Banda Aceh juga berasal dari desa pesisir tempat bermukim seribuan jiwa ini. Sebuah prasasti yang menandakan titik nol Banda Aceh juga berdiri di sana.

Gampong Pande menyimpan banyak artefak dan peninggalan sejarah, seperti piring, cawan keramik kuno, Makam Putroe Ijo, Makam Raja-Raja Gampong Pande, dan Makam Teungku di Kandang. Ketiga makam itu letaknya hanya terpaut 10 hingga 20 meter dan di bawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3).

Pande juga dijuluki Kampung ‘Seribu Nisan’, karena diperkirakan ada ratusan nisan kuno dengan ukiran unik dan indah di sana. Sebagiannya kini lenyap disapu tsunami sembilan tahun lalu. Sebagian lagi masih terlihat di permukaan, meski ada juga yang tenggelam di rawa-rawa.

Medio November tahun lalu, nama Gampong Pande kembali melejit setelah ditemukan ribuan keping emas kuno di Muara Krueng (Sungai) Doy. Koin emas diyakini dirham atau mata uang Kerajaan Aceh Darussalam pada abad XVI itu, mulanya ditemukan seorang perempuan pencari tiram.

Temuan yang menghebohkan mengundang ratusan orang berbondong-bondong ke sana untuk mencari koin serupa di balik lumpur dekat sebuah makam kuno.

Tarmizi Abdul Hamid, kolektor benda kuno dan manuskrip Aceh, mengatakan, masa Kerajaan Aceh dikenal tiga jenis mata uang, yakni dirham, dinar, dan keuh. Dirham terbuat dari emas, dinar dari perak, dan keuh dari timah.

“Dirham dipergunakan sebagai alat tukar orang dewasa, dinar mata uang untuk remaja, dan keuh untuk anak-anak,” jelasnya.

Menurut Taqiyuddin Muhammad, Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam, sebagian dari dirham yang ditemukan di Gampong Pande itu diyakini berasal dari Dinasti Ottoman Turki yang memiliki hubungan khusus dengan Kesultanan Aceh. Temuan ini semakin menguatkan bukti jalinan bilateral yang baik antara Aceh dan Turki ketika itu.

“Kedua kerajaan ini diibaratkan dua bersaudara yang telah menyumbang kebaikan bagi umat Islam saat itu,” kataya.

Temuan koin emas ini, kata Sejarawan Aceh, Husaini Ibrahim, juga membuktikan bahwa Gampong Pande memang gemilang pada masa lampau. Menurut penelitiannya, Gampong Pande adalah pusat industri Kerajaan Aceh Darussalam yang puncak kejayaannya pada kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

“Namun sebelum itu, kawasan ini sudah terkenal sebagai kawasan industri dan pusat perdagangan yang strategis, berada di pintu masuk Selat Malaka,” terangnya.

Di daerah ini dulu banyak terdapat orang-orang ahli atau pandai menempa emas, besi, batu dan lainnya. Mereka memiliki nilai seni yang tinggi, ini bisa dilihat dari artefak atau peninggalan-peninggalan di sana, seperti nisan, pedang, dan lainnya.

“Mereka membuat mata uang dari emas, batu nisan dengan ukiran-ukiran indah, senjata besi untuk berperang dan berbagai kebutuhan kerajaan lainnya (di Gampong Pande)," kata dosen FKIP Sejarah Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) itu.

Konsentrasi sentra pengrajin diyakini berada di kawasan Kuta Blang yang kini sudah dijadikan salah satu nama jalan di Gampong Pande. Riwayat menyebutkan karena banyak terdapat orang pandai, maka kawasan ini dinamakan Gampong Pande alias Kampung Pandai.

Berbagai komoditas dan kerajinan dari Gampong Pande diekspor hingga ke Malaysia, Turki, Prancis, bahkan Inggris. Komoditasnya ekspor di antaranya batu nisan, kapur barus dan rempah-rempah.

Batu nisan yang diukir pengrajin di Gampong Pande kala itu berasal dari Pulau Batee (Pulau Batu), pulau yang kini masuk dalam gugusan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini