Tenaga Kerja Jakarta Minimal SMA

Rachmad Faisal Harahap, Okezone · Rabu 07 Mei 2014 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2014 05 07 373 981503 xauuj2VIiw.jpg Suasana bursa kerja. (Ilustrasi: dok. Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, per Februari 2014, penduduk bekerja berpendidikan tinggi mencapai 12,0 juta orang atau sekira 10,14 persen dari total populasi masyarakat Indonesia. Angka ini naik dari data periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 11,3 juta orang (9,72 persen).

Peningkatan juga terjadi di wilayah Ibu Kota Jakarta. Menurut Kepala Bidang (Kabid) Penelitian dan Statistik Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Tuty Kusumawati, angkatan kerja lulusan diploma dan sarjana di Jakarta kebanyakan bekerja di sektor formal. Persentasenya mencapai 20 persen.

"Selain pendidikan tinggi, pekerja di Jakarta juga diisi para lulusan SMA dan SMK yakni 45 persen. Sisa 35 persen adalah lulusan SMP ke bawah," ujar Tuty kepada Okezone baru-baru ini.

Dengan komposisi seperti ini saja, tenaga kerja di Jakarta masih cukup bagus. Namun Tuty berharap, komposisi ini dapat bergerak ke arah S-1. Artinya, kian banyak angkatan kerja di Jakarta merupakan sarjana.

Oleh sebabnya, Pemda DKI Jakarta mendorong penyelenggaraan wajib belajar 12 tahun dengan program Pendidikan Menengah Universal (PMU). Melalui program ini, diharapkan penduduk DKI Jakarta minimal lulus SMA atau sederajat. Program lain yang mendukung target tersebut adalah mekanisme Kartu Jakarta Pintar (KJP).

"Artinya pengeluaran KJP ini warga Jakarta wajib sekolah sampai dengan minimal SMA. Jadi, mudah-mudahan komposisi pekerja lulusan SMA dan SMP ke bawah tidak ada lagi. Ke depan, pekerja semuanya minimal SMA, tapi kalau bisa lebih tinggi lagi," ungkapnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini