nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Pertapaan Permaisuri Syarifah yang Berujung Makam Aer Mata

Syaiful Islam, Jurnalis · Kamis 12 Juni 2014 11:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 06 12 522 997698 UttrM8dekn.jpg Makam Aer Mata di Bangkalan (Foto: Syaiful I/okezone)

BANGKALAN - Alkisah zaman pemerintahan Sultan Agung di Mataram. Suatu hari beliau kedatangan rombongan dari Sampang, Madura, yang dipimpin Panembahan Juru Kiting.

Maksud dan tujuan kedatangannya untuk menghadapkan seseorang yang bernama Raden Praseno yaitu salah satu putra Raja Arosbaya, Raden Koro, yang bergelar Pangeran tengah.

Setelah maksud kedatangannya dijelaskan kepada Sultan Agung tentang asal usul R Praseno, kemudian beliau merasa sangat iba dan menaruh rasa sayang kepada R Praseno. Salah satu alasannya ia telah ditinggalkan ayahnya saat masih kecil.

Karena itulah kemudian R Praseno mendapat kepercayaan dari Sultan Agung dan diangkat untuk menjadi raja dan diberi kekuasaan di Arosbaya, berkedudukan di Sampang dengan mendapat gelar Pangeran Cakraningrat I, menggantikan pamannya yang bernama Pangeran Mas.

Beliau mempunyai seorang permaisuri yang bernama Syarifah Ambami. Walaupun Pangeran Cakraningrat I ini memerintah di Madura, tetapi banyak menghabiskan waktunya di Mataram, membantu Sultan Agung. Sedang pemerintahan di Madura, selama berada di Mataram, tetap berjalan lancar.

Melihat keadaan yang demikian, istrinya Syarifah Ambami merasa sangat sedih. Siang malam menangis meratapi dirinya. Kemudian bertekat untuk menjalankan pertapaan. Lalu bertapa di sebuah bukit yang ada pada daerah Buduran Arosbaya.

Dalam tapanya itu, Syarifah Ambami senantiasa memohon dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa, semoga keturunannya kelak sampai tujuh turunan ditakdirkan menjadi penguasa pemerintahan di Madura.

Dikisahkan pula dalam pertapaannya itu, bertemu dengan Haidir AS. Dari pertemuannya, memperoleh kabar bahwa permohonannya Insya Allah dikabulkan. Betapa senang hatinya, lalu bergegas pulang kembali ke Sampang.

Selang beberapa lama, Pangeran Cakraningrat I datang dari Mataram. Diceritakanlah semua pengalaman semenjak suaminya berada di Mataram bahwa telah menjalankan pertapaan. Serta diceritakan pula hasil pertapaannya kepada Pangeran Cakraningrat I.

Setelah selesai mendengarkan cerita istrinya itu, Pangeran Cakraningrat I bukanlah merasa senang, tetapi merasa sedih dan kecewa terhadap istrinya. Pangeran Cakraningrat berguman kenapa hanya berdoa dan memohon sampai tujuh turunan saja.

Melihat kekecewaan yang terjadi pada diri Pangerna Cakraningrat I, Syarifah Ambami merasa berdosa dan bersalah terhadap suaminya. Setelah Pangeran Cakraningrat I kembali ke Mataram, Syarifah kembali pergi bertapa lagi ke tempat pertapaan yang dulu.

Lalu memohon agar semua kesalahan dan dosa terhadap suaminya diampuni. Dengan perasaan sedih, terus menjalani pertapaan. Selalu menangis, menangis dan terus menangis, sehingga air matanya mengalir membanjiri sekeliling tempat pertapaannya.

SampaiĀ  wafat dan dikebumikan di tempat pertapaannya, yang sampai sekarang dikenal dengan nama Makan Aer Mata (air mata) terletak di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Madura. Makam Aer Mata ramai dikunjung para ziarah dari segala penjuru sampai sekarang.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini