nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Raden Abdul Kadirun Sang Pemimpin Islam di Madura

Syaiful Islam, Jurnalis · Sabtu 14 Juni 2014 10:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 06 14 522 998764 v6kW9IJapF.jpg Makam Raden Abdul Kadirun (Foto: Syaiful Islam/okezone)

BANGKALAN - Dalam literatur perkembangan Islam di Madura, sosok Raden Abdul Kadirun memang tidak banyak disebut. Sultan Bangkalan II ini memang lebih dikenal sebagai tokoh pemerintahan yang ulung.

Mewarisi Pemerintahan Sultan Bangkalan I (Sultan Abdul/Panembahan Adipati Tjakraadiningat I), Raden Abdul Kadirun berjasa memajukan wilayah di ujung Barat Madura. Tidak serta-merta menghapuskan perannya dalam penyebaran Islam.

Raden Abdul Kadirun dikenal menjalankan pemerintahannya dengan prinsip-prinsip islami.

Saat memerintah pada 1815-1847, Islam berkembang dan menjadi warna yang dominan di masyarakat Bangkalan. Tak heran, Rato (pemimpin/pemerintah) ini begitu dihormati sosoknya.

Tanda bahwa Sultan Abdul Kadirun begitu berjasa terhadap penyebaran Islam juga terlihat dari nisannya yang dibangun sedemikian megah. Terletak di sisi barat komplek Masjid Agung Bangkalan.

Nuansa bangunan kuno begitu kental dengan ukiran motif bunga dan lambang-lambang perjuangan saat mengusir penjajah. Salah satu nisan makam ada yang berbentuk mahkota kerajaan. Raden Abdul Kadirun merupakan tokoh penting dalam sejarah Bangkalan bahkan merupakan seorang pemimpin pertama yang berjuang melawan penjajah Belanda.

Raden Abdul Kadirun merupakan keturunan Ratu Ibu, yang terletak di Arosbaya. Raden Abdul Kadirun yang bergelar Sultan Cakra Adiningrat II ini juga masih mempunyai garis keturunan dengan Brawijaya.

Kompleks makam tersebut, bisa dikatakan merupakan kompleks makam keluarga. Hampir seluruh kerabat Sultan disemayamkan di sini bahkan, istri tercinta Sultan yakni R Ayu Masturah atau Ratu Ajunan, beserta beberapa orang putranya, disemayamkan secara bersebelahan dan berada dalam satu cungkup.

Kompleks makam bagian dalam yang dibangun sejak 1848 itu, tertera jelas didominasi kultur Jawa. Sampai sekarang banyak warga yang berziarah ke makam Sultan R Abdul Kadirun.

Mereka membaca surat suci Alquran dan berdoa. Para peziarah tidak hanya datang dari Madura, tetapi juga dari luar Madura.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini