Kampanye Positif, Kampanye Cerdas

Kamis 26 Juni 2014 10:24 WIB
https: img.okezone.com content 2014 06 26 95 1004334 CpCCWRQmAl.jpg Dwi Khoyriyyah (Foto: dok. Pribadi)

DALAM hitungan hari, pemilihan presiden dan wakil presiden 2014 akan dilaksanakan; tepatnya pada 9 Juli 2014. Masing-masing pasangan calon, baik Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK sedang sibuk untuk meyakinkan masyarakat agar memilih mereka.  

Namun sayangnya, dalam prosesi kampanye, masing-masing pasangan calon/tim sukses menghalalkan segala cara. Mereka tidak ragu menebar fitnah, menyebarkan dusta atau melakukan pembunuhan karakter; semua ini biasa disebut dengan istilah black campaign.

 

Sementara black campaign masih berjalan, kampanye negatif (negative campaign) pun dilancarkan. Berbeda dengan temannya black campaign, kampanye negatif lebih mengedepankan data-data atau bermuatan informasi jejak buruk pasangan calon. Semua itu dilakukan hanya untuk mendulang suara publik serta demi kemenangan pasangan calon yang dibelanya.

 

Cara-cara seperti itu dianggap efektif mengingat mayoritas masyarakat kita suka dengan hal-hal yang berbau gosip. Hal tersebut terlihat dengan tingginya rating/minat menonton para pemirsa untuk melihat/menyimak sinetron atau tayangan lainnya yang berbau gosip. Padahal hal tersebut tidak baik dalam pendidikan politik bagi kita rakyat Indonesia.

 

Kedua jenis kampanye tersebut sesungguhnya tidak dibenarkan/dilarang dalam perpolitikan di negeri ini. Sebab, keduanya dianggap tidak mencerminkan karakter bangsa yang sudah terkenal dengan keramahan, kesopanan dan kesantunan dalam berbicara.

 

Memang ada sebagian penggiat pemilu atau para pakar politik membolehkan kampanye negatif dengan alasan agar membeberkan sisi kelam sosok yang menawarkan diri dipilih rakyat. Namun, yang perlu diingat adalah hal tersebut menyontek dari budaya politik asing. Dan menurut penulis, kegiatan tersebut tidak cocok jika diterapkan di negara kita. Ada baiknya kita mengikuti anjuran Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI) yaitu lebih memakai kampanye positif (positive campaign) daripada kampanye negatif atau kampanye hitam.

 

Ada beberapa keunggulan jika masing-masing pasangan calon/tim sukses menggunakan kampanye positif. Pertama, memberikan pendidikan politik yang baik bagi rakyat; kedua, tidak melanggar regulasi pemilihan umum (pemilu); ketiga, rakyat akan lebih simpati; dan terakhir tidak dicatat sebagai perbuatan dosa oleh malaikat.

 

Sebagai penutup penulis ingin mengatakan bahwa berkampanyelah dengan sportif, tidak menjelek-jelekkan, memfitnah dan membeberkan sisi kelam pasangan calon yang lain. Sebab hal tersebut dilarang oleh penyelenggara pemilu dan sudah barang tentu dilarang juga oleh agama mana pun. Ayo gunakan kelebihanmu untuk memikat hati rakyatmu dan tunjukkanlah kelebihanmu, wahai calon pemimpin bangsa!

 

Dwi Khoyriyyah

Mahasiswi  Fakultas Pendidikan Agama Islam

Universitas Islam Jakarta

Relawan Komite Independent Pemantau Pemilu Jakarta (KIPP) Tahun 2012

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini