nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berisiknya Uang Receh

Jum'at 27 Juni 2014 12:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2014 06 27 95 1004885 uwr6JDS9EP.jpg Deni Indracahya. (Foto: dok. pribadi)

UANG receh selalu lebih berisik. Gonjang-ganjing nyaring bunyinya tatkala kita mengajaknya untuk mengisi ruang saku kita. Semakin besar kuantitasnya, maka semakin besar kebisingan yang ia buat, padahal nilai yang mereka tawarkan tidak begitu besar dan justru memberikan beban berat tersendiri bagi pemiliknya. Berbeda dengan uang kertas yang jauh lebih ringan dan memiliki nilai nominal yang jauh lebih besar. Uang kertas adalah hasil dari revolusi  pola pikir manusia yang lebih modern dan elegan. Solusi yang tepat untuk kehidupan di masa yang akan datang.  

Ilustrasi di atas cukup menggambarkan suasana politik yang terjadi di negara ini. Uang receh yang selalu lebih berisik, menggemboskan, black campaign, menyebar fitnah dengan tujuan menjatuhkan rivalnya. Orang-orang ini adalah ring terluar yang membuat semua berita bias hingga bermuara pada ketidakpastian rakyat akan pasangan mana yang sekiranya tepat untuk memimpin bangsa ini ke depannya. Mereka membuat seakan-akan calon pemimpin kita (baca: Capres-Cawapres) tidak ada baiknya sama sekali. Agenda mereka setiap hari adalah menggelontarkan ide-ide propaganda untuk mengubah perspektif masyarakat hingga membuat yang hitam menjadi putih dan putih menjadi hitam.

 

Uang receh yang notabene-nya memiliki nilai nominal yang kecil memang sudah tidak lagi berpikir dalam kedewasaan. Ia hanya mempertaruhkan uang atau jabatan yang akan ia dapat ketika calon yang ia dukung menjadi pemenang. Orang-orang ini bukan hanya mereka yang tak berpendidikan tinggi, namun karena dangkalnya nilai-nilai yang ia miliki, membuat semua yang ia lakukan serasa asyik-asyik saja. Bulan lalu mencaci dan merongrong yang itu, menunggu hari, bak roda berputar 360 derajat kini mendukung dan mengelu-elukan orang yang ia caci sebelumnya. Mereka bukan hanya makelar-makelar pepesan, tetapi bos-bos bahkan konglomerat yang punya seribu kepentingan bagi dirinya sendiri. Hingga mereka tak peduli dan tak mendukung pasangan berdasarkan kualitas  tetapi mutualitas untuk diri.

 

Perkara ini dapat direduksikan dari fenomena-fenomena yang hari ini kita dapatkan. Lihat saja bagaimana media-media dengan genitnya mengulas dan menelanjangi kebobrokan salah satu pasangan lawan dengan tidak berimbang. Yang mereka teriakkan sudah pasti adalah pesanan dari si empunya redaksi. Spanduk-spanduk dan video yang selalu saja menyerempet pada perilaku masa lalu atau masa kini yang dianggap dapat menumbuhkan citra buruk bagi rivalnya.

 

Sungguh miris tatkala melihat si “uang receh” melancarkan aksinya. Menyebar dan mengulas informasi yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pribadi rival. Dengan segala kecanggihan teknologi yang ada mereka menggelontorkan informasi-informasi palsu. Setiap kata-kata yang dilontarkan rival dipelintir sedemikian rupa bahkan menjadi anekdot yang tak berkualitas.

 

Apakah benar bangsa ini membutuhkan semua berita itu? Apakah benar rakyat Indonesia memang sudah tidak memiliki calon pemimpin yang baik, sehingga tak ada lagi goresan indah yang sekiranya diingat oleh rival secara fair lalu menyebarkannya? Apa salah jika kita sama-sama menyukseskan pemilu dengan baik di mana rakyat benar-benar mendapatkan informasi yang rill tidak hoax belaka?

 

Tidakkah kita menjadi uang kertas bernominal tinggi, yang berpikir besar dan menjunjung nilai-nilai besar bangsa ini? Bangsa yang dikenal memiliki soliditas perjuangan yang tinggi, bangsa yang ramah dan memiliki corak budaya yang beragam. Apa kata dunia jikalau pemimpin yang terpilih nanti justru akan duduk di kursi istana tanpa busana karena telah kita lucuti di masa kampanye? Biarlah mekanisme pemilu yang menjawab kualitas pasangan yang mengusungkan diri. Mari kita gunakan sarana debat capres untuk mengetahui seberapa dalam visi-misi yang mereka bawa. Mari kita coba mengenal dan memahami track record kedua pasangan. Coba kita amati, toh kedua pasang Capres tidak saling memaki dan menggunjing, jika ada yang melakukan hal tersebut biarlah ia menemui batunya sendiri.

 

Bangsa ini butuh pemimpin yang merakyat, tegas, memiliki gagasan yang hebat dan berkompeten menjadi putra terbaik bangsa. No leader is perfect, sulit mencari pemimpin yang sempurna. Tetapi kita dapat membangun bangsa ini menuju cita-citanya melalui kebersamaan; bukan perpecahan, bukan pula kerusuhan dan anarkis yang disulutkan oleh ego diri. Simpan semua sendi-sendi yang menyulut api, mari kita kerahkan segalanya untuk negeri agar bangsa ini benar-benar Berdikari!!! (“Berdiri di kaki sendiri”: Soekarno dalam Pidato kenegaraan HUT RI 1965)

 

Deni Indracahya

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Indonesia

Pandu Budaya X              

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini