Share

Sang Profesor Soroti Visi Pertanian Capres

Mohammad Saifulloh, Okezone · Senin 07 Juli 2014 15:32 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 07 567 1009373 IJOCyLGd8I.jpg Kandidat capres dan cawapres (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Pakar bidang Pertanian asal Universitas Padjajaran Bandung, Prof. Tarkus Suganda, menyatakan dirinya menyoroti paparan kedua capres dalam bidang pertanian, peternakan, dan lingkungan, tentang masih tingginya impor produk pertanian. 

 

"Sebagai seorang pemerhati bidang pertanian, saya sangat mendukung bahwa sektor pertanian harus kembali diperkuat agar negara kita berdaulat, terutama di bidang pangan," kata Prof Tarkus di Jakarta, Senin (7/7/2014).

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

 

Menurutnya, dari pemaparan kedua capres, nampak sekali bahwa pasangan nomor urut 1 memiliki program kerja yang masih dalam tatanan konsep yang sulit diimplementasikan. Contohnya, mencetak 2,5 juta hektar sawah, yang pasti tidak seperti membalikkan telapak tangan.

 

Sementara pasangan nomor urut 2, menurutnya, sudah sangat realistis dan bahkan secara runut menyiapkan operasionalisasinya. Misalnya, dia mengapresiasi penjelasan Capres Jokowi bahwa menambah luasan lahan memang perlu tetapi luasannya berapa, sangat tergantung dari ketersediaan sumber air dan jaringan irigasinya.

 

Lalu ekstensifikasi yang membabi buta tanpa perhitungan hanya akan jadi pembenaran untuk menambah perusakan hutan. Sekaligus itu bisa menjadi lahan proyek untuk pembenaran penghamburan uang negara dengan nama proyek lahan gambut sejuta Ha dan lahan pertanian di Papua.

 

Tarkus juga menilai paparan pasangan Nomor Urut 2 tentang program peningkatan peternakan nasional untuk pemenuhan swasembada daging, sangat realistis dan jelas. "Saya mengagumi pemahaman Jokowi tentang impor bakalan sapi dan bukan sebagai bentuk daging," katanya.

 

Dia menjelaskan adalah betul bahwa impor dalam bentuk bakalan akan menghasilkan berbagai aktivitas turunannya yang akan menciptakan lapangan kerja bagi peternak Indonesia. Antara lain pemeliharaan, pemotongan, pengolahan. 

 

"Jika impornya dalam bentuk daging, maka harganya disamaratakan, sehingga menjadi mahal. Padahal dari seekor sapi menghasilkan berbagai jenis daging yang berbeda. Jokowi benar-benar memperhatikan sampai ke rakyat kecil yang perlu daging dengan harga terjangkau,” ulasnya.

 

Tarkus melanjutkan, pertanian dan peternakan selama ini memang dituding menghasilkan polusi lingkungan. Padahal keberlanjutan lingkungan menjadi hal utama yang harus diperhatikan.

 

Sekarang, intergrated farming for sustainable agriculture sedang dikembangkan di seluruh dunia. Dan, menurutnya, Jokowi dengan fasih dapat menjelaskan bagaimana limbah sektor pertanian dimanfaatkan untuk pakan ternak, sementara kotoran dan air seni ternak diolah agar tidak mencemari lingkungan. Bahkan kotoran menghasilkan sumber energi terbarukan dan dikembalikan menjadi pupuk organik. 

 

Dengan konsep demikian, menurut Prof.Tarkus, maka alokasi dana desa Rp 1,4 miliar sebagaimana diamanatkan UU Desa, akan lebih terarah dan berhasil guna. Itu demi meningkatkan produksi pertanian dan membangun peternakan untuk mengurangi dan akhirnya mungkin menghentikan impor.

 

"Konsep yang ditawarkan Jokowi bukan saja sudah sangat tepat, tetapi sangat operasional," tandasnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini